JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Sekretaris Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Teni Widuriyanti, mengungkapkan bahwa program *Compact* yang dirancang oleh Millennium Challenge Corporation (MCC) sangat selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Teni menyatakan, "Program *Compact* ini sejalan dengan prioritas nasional yang telah ditetapkan. Rencana pembangunan jangka menengah yang akan datang, dari tahun 2025 hingga 2029, menyediakan visi jelas untuk masa depan bangsa, tercakup dalam Asta Cita yang merupakan program-program utama pemerintahan mendatang dan *quick wins* yang bertujuan mempercepat kemajuan kita." Pernyataan itu disampaikan dalam acara MCC Entry-into-Force (EIF) yang berlangsung di The Energy Building, Jakarta. Kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Millennium Challenge Account-Indonesia II (MCA-II) berfokus pada penyelesaian masalah intermediasi keuangan yang mahal dan belum berkembang di Indonesia. Investasi yang direncanakan mencapai sebesar 649 juta dolar Amerika Serikat (AS) untuk periode 2024-2029. Hibah *Compact* kedua dari MCC, yang juga bernilai 649 juta dolar AS, berfungsi untuk mendukung kemitraan strategis antara Amerika Serikat dan Indonesia. Dalam kerangka perjanjian *Compact*, MCC memberikan kewenangan kepada Indonesia untuk melaksanakan program tersebut sesuai dengan prioritas pembangunan nasional yang telah ditetapkan. Dalam pengelolaan hibah MCC, negara mitra diharuskan untuk membentuk entitas pengelola yang dikenal sebagai MCA. Entitas ini mencakup elemen-elemen dari sektor pemerintah, swasta, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil. Untuk Indonesia, nama entitas tersebut adalah MCA-Indonesia II, yang bertugas untuk mengelola dan mengimplementasikan program ini. Salah satu tujuan utama MCA-Indonesia II adalah mengurangi tingkat kemiskinan. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan kapasitas perencanaan, persiapan proyek, dan menerapkan pembiayaan inovatif untuk infrastruktur. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), terutama yang dimiliki oleh perempuan. Program *Compact* ini direncanakan berlangsung di lima provinsi utama, yaitu Sumatera Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, dan Bali. Adapun manfaat yang diharapkan akan diterima oleh pemerintah daerah, pemerintah pusat, lembaga keuangan, serta masyarakat luas. Sebagai catatan, hibah *Compact* ini mencakup kontribusi dari Pemerintah Indonesia sebesar 49 juta dolar AS, di samping total dana sebesar 649 juta dolar dari MCC. Fungsi pengelolaan program ini dilaksanakan oleh MCA-Indonesia II yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2011 mengenai Dana Perwalian. Teni menambahkan, "Program *Compact* tidak hanya perlu melengkapi prioritas nasional, tetapi juga harus memberikan nilai nyata bagi prioritas tersebut. Hubungan ini lebih dari sekadar formalitas; ini merupakan langkah yang strategis." Dia melanjutkan bahwa dengan mengintegrasikan program *Compact* ke dalam tujuan nasional yang lebih luas, Indonesia dapat memastikan setiap upaya, investasi, dan inisiatif berkontribusi pada kemajuan negara. Untuk mencapai hal tersebut, penting untuk menjamin bahwa implementasi program berjalan dengan baik, didukung oleh partisipasi aktif dari semua pemangku kepentingan. MCA-Indonesia II diharapkan dapat membawa mitra, suara, dan ide baru untuk menjaga kesinambungan dan mendorong inovasi, terutama di kalangan pemimpin daerah yang akan memainkan peran penting dalam proses tersebut. Namun, Teni menekankan bahwa kelancaran implementasi saja tidak cukup; sumber daya juga harus dialokasikan dengan efektif dan efisien, didukung oleh komitmen yang berkelanjutan dari semua pihak terkait. Penting untuk melakukan disiplin dalam hal administrasi, termasuk dalam pelaporan dan pencatatan hibah. Ini merupakan mekanisme yang menjamin akuntabilitas dan transparansi. "Setiap rupiah yang dibelanjakan, setiap laporan yang disusun, dan setiap keputusan yang diambil harus sesuai dengan tujuan kita bersama dalam memaksimalkan dampak dari program *Compact*," tegasnya. Teni juga mengingatkan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada komitmen yang kuat dari semua pihak yang terlibat. Selama proses persiapan, sudah ada komitmen yang solid dari pemerintah pusat dan daerah, serta harapan yang tinggi dari berbagai kelompok. Karena itu, MCA-Indonesia II beserta semua pelaksana proyek harus bisa mengelola komitmen dan harapan yang ada dengan menunjukkan kinerja yang sangat baik. Hal ini berarti mereka diharapkan mampu menghadirkan hasil kerja yang melampaui ekspektasi. Teni meminta MCC untuk juga berperan aktif dalam mengelola komitmen dan ekspektasi, serta memastikan kualitas kerja dari MCC dan pelaksana proyek lainnya. Menyikapi tantangan yang ada, Teni menekankan pentingnya kepemimpinan yang lebih solid dalam komunikasi dan pengambilan keputusan untuk mengatasi berbagai tantangan yang telah teridentifikasi. Dia menegaskan, "Kita tidak boleh lari dari tantangan ini, tetapi harus menghadapinya dengan sikap proaktif dan solusi yang tepat. Kami akan memperbaiki manajemen kontrak, menerapkan pengawasan yang lebih ketat, dan menggunakan strategi mitigasi risiko yang kokoh." ANTARA