SEMARANG –
**Borneonews - Kudus**, Pemerintah Kabupaten Kudus, yang terletak di Jawa Tengah, menyatakan bahwa daya beli masyarakat di wilayah tersebut tetap dalam kondisi yang aman, meskipun terjadi deflasi selama empat bulan berturut-turut. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa komoditas yang menjadi penyebab deflasi di daerah ini berasal dari kelompok bahan makanan. Beberapa di antaranya adalah bawang merah, telur ayam ras, daging ayam ras, tomat, dan ikan bandeng. Sementara itu, emas perhiasan menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Kudus, Djatmiko Muhardi, menjelaskan bahwa meskipun terjadi deflasi, daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini dimungkinkan karena sebagian dari pengeluaran masyarakat justru dialokasikan untuk membeli emas perhiasan, yang merupakan simbol status dan investasi. Djatmiko menambahkan bahwa kondisi perekonomian masyarakat di Kudus masih tergolong baik. Meskipun hanya kelompok bahan makanan yang mengalami deflasi, kelompok komoditas lainnya justru mengalami peningkatan inflasi. Hal ini mengindikasikan bahwa dinamika ekonomi di Kudus masih berfungsi dengan relatif stabil. Seiring dengan menjelang pasca panen padi yang mulai berakhir, Djatmiko juga mencatat bahwa harga jual beras di pasaran mulai mengalami peningkatan. Dalam hal ini, dampak inflasi diperkirakan akan meningkat, yang menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah. Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa deflasi sering kali berdampak lebih besar bagi daerah yang menjadi penghasil komoditas makanan. Namun, sebagian besar komoditas pangan yang ada di Kudus dipasok dari luar daerah, sehingga dampaknya akan berbeda. Kudus memiliki produksi beras yang cukup besar, dan musim kemarau yang akan datang dapat memicu lonjakan harga pada berbagai komoditas. Pemerintah Kabupaten Kudus berkomitmen untuk mengendalikan fluktuasi harga komoditas tersebut. Salah satu langkah yang diambil adalah memantau pergerakan harga kebutuhan pokok dan memberikan dukungan kepada pedagang komoditas yang berasal dari luar daerah. Ini bertujuan untuk memastikan stok kebutuhan pokok masyarakat tetap tersedia. Djatmiko juga menjelaskan bahwa komoditas pokok seperti bawang merah, bawang putih, cabai, telur, dan berbagai sayuran lainnya sebagian besar bukan berasal dari Kudus, melainkan dari daerah lain. Oleh karena itu, penting untuk menjaga ketersediaan komoditas tersebut agar tidak menimbulkan kekurangan di pasaran. Kepala BPS Kudus, Eko Suharto, juga menerangkan bahwa deflasi yang dialami Kudus selama empat bulan beruntun, yaitu dari Mei hingga Agustus 2024, disebabkan oleh penurunan harga di kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Walaupun deflasi berlangsung, Eko menekankan bahwa hal ini tidak menunjukkan penurunan daya beli masyarakat secara keseluruhan, karena penurunan indeks harga lebih banyak dipengaruhi oleh bahan makanan. Ia juga mengingatkan untuk tetap waspada pada bulan-bulan mendatang. Dengan berakhirnya masa panen beberapa komoditas pertanian, harga jual di pasaran berpotensi meningkat, sementara stok barang akan berkurang. Permintaan, terutama untuk produk seperti jagung yang digunakan oleh peternak, juga diprediksi akan meningkat. Oleh karena itu, pemantauan dan pengendalian terhadap harga-harga komoditas harus terus dilakukan untuk menjaga kestabilan ekonomi di Kudus. ANTARA