PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kalimantan Tengah kaya akan seni dan budaya, terutama tari-tarian. Mulai dari tari gemulai seperti Tari Bahalai, hingga tari yang menghentak semangat seperti Tari Giring-Giring. Saat ini hampir setiap acara resmi pemerintahan telah diawali dengan penampilan tari-tarian dari sebuah sanggar tari tradisional. Apalagi acara yang mengundang tamu luar dan pejabat pemerintah pusat, hampir bisa dipastikan selalu diawali dengan penampilan para penari yang menampilkan tari tradisional.

Ternyata tari-tarian ini sudah berevolusi. Tidak lagi hanya sekadar sebagai penampilan pembuka sebuah acara, namun lebih dari itu, ditampilkan dalam sebuah pagelaran layaknya konser musik.

Inilah yang terlihat pada 30 Agustus 2024 lalu di panggung megah yang didirikan di UPT Taman Budaya Kalteng, Jalan Temanggung Tilung XIII, Palangka Raya. Sebuah sanggar seni bernama "Sanggar Seni Betang Batarung" telah sukses menggelar Pagelaran Kesenian yang mampu membius mata penontonnya. Acara ini bahkan sangat unik karena bukan saja menampilkan tarian tradisional, tetapi memadukannya dengan unsur alam sehingga mengusung tema “Menjaga dan Merawat Alam, Serta Seni Budaya Tradisional Jantung Kalimantan".

Panggung terbuka UPT Taman Budaya dihiasi dengan dekorasi yang mencerminkan kekayaan alam dan budaya Kalimantan. Di sekeliling panggung, terdapat berbagai instalasi seni yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti bambu, rotan, dan daun-daunan. Penonton yang hadir memadati area panggung, menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap acara ini.

Acara ini menampilkan tujuh pertunjukan seni tradisional yakni pertunjukkan Panenden Bunu, penampilan Umai Bajenta Line Dance, serta berbagai pertunjukan lainnya termasuk tarian Dayak, musik tradisional dengan alat-alat musik yang juga tradisional. Sebanyak 130 peserta didik Sanggar Seni Betang Batarung tampil dalam pagelaran ini dan menampilkan beberapa jenis tarian seperti tari Giring-Giring, Mandau, Olah Tubuh, Dadas Bawo, Bahalai, Kontemporer, serta Kutaw yang merupakan seni beladiri khas Dayak. Rangkaian kegiatan HUT ke-16 Sanggar Seni Betang Batarung ini ditutup dengan tarian dari Juara Umum Parade Tari Nusantara tahun 2023 dengan judul "Panenden Bunu".

Pagelaran Seni Betang Batarung tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan pelestarian budaya. Dengan tema yang diusung, acara ini berhasil menyampaikan pesan penting tentang pentingnya menjaga alam dan budaya tradisional Kalimantan Tengah. Antusiasme dan partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa seni dan budaya masih memiliki tempat yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Pagelaran ini menampilkan berbagai pertunjukan seni tradisional yang bertujuan untuk melestarikan budaya lokal Kalimantan Tengah.

Acara ini juga dihadiri oleh berbagai komunitas seni dan budaya serta masyarakat umum yang memadati panggung terbuka UPT Taman Budaya.

Tujuan utama pagelaran Seni
Ketua Panitia Pagelaran Seni Betang Batarung, Jihan Salwa Hasanah menyampaikan tujuan utama dari pagelaran seni ini adalah untuk menumbuhkan potensi generasi muda serta mengembangkan minat dan bakat dalam seni budaya tradisional.

"Kami ingin memastikan bahwa seni dan budaya, yang merupakan identitas dan jati diri bangsa, khususnya di tanah Kalimantan, tetap hidup dan berkembang. Kami sangat senang melihat antusiasme masyarakat yang begitu besar. Banyak yang datang untuk menyaksikan berbagai pertunjukan seni tradisional yang kami tampilkan," kata Jihan dalam gelaran tersebut.

Kondisi ini menurut Jihan menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pelestarian budaya lokal. Dengan digelarnya Pagelaran Kesenian Betang Batarung 2024 ini Jihan berharap akan dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni budaya lokal serta menjadi naungan agar generasi muda dapat menggali potensi bakat dan minat yang dimiliki di bidang kesenian dan budaya.

Tantangan terbesar adalah koordinasi dan persiapan yang matang, terutama dalam memastikan semua peserta dan penampil siap dan tampil maksimal.

"Namun, dengan kerja keras dan kerjasama dari semua pihak, kami berhasil mengatasi semua tantangan tersebut. Harapan saya untuk masa depan seni dan budaya di Kalimantan Tengah adalah agar seni dan budaya di Kalimantan Tengah terus berkembang dan mendapat dukungan penuh dari semua lapisan masyarakat. Kami juga berharap generasi muda semakin tertarik dan aktif dalam melestarikan warisan budaya ini," tuturnya lagi.

Inspirasi utama paduan seni budaya tradisional di jantung Kalimantan
Sementara itu dalam kesempatan yang sama Pendiri Sanggar Seni Betang Batarung, Tris Sofia Wartina juga mengatakan bahwa inspirasi utama penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk menjaga dan melestarikan seni budaya tradisional Kalimantan Tengah.

"Kami ingin memastikan bahwa generasi muda memahami dan menghargai warisan budaya mereka, serta mendorong mereka untuk aktif dalam kegiatan seni dan budaya. Seni memiliki peran penting dalam menjaga alam dan budaya. Melalui seni, kita bisa menyampaikan pesan-pesan penting tentang pelestarian lingkungan dan budaya kepada masyarakat. Tema pagelaran kali ini, “Menjaga dan Merawat Alam, Serta Seni Budaya Tradisional Jantung Kalimantan,” mencerminkan komitmen kami terhadap hal tersebut," jelas Tris.

Tantangan terbesar yang dihadapinya bersama tim, lanjutnya, adalah memastikan semua elemen acara berjalan lancar, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan.

"Koordinasi dengan berbagai pihak dan memastikan semua peserta siap tampil maksimal adalah hal yang cukup menantang. Namun, dengan kerja keras dan dedikasi tim, kami berhasil mengatasi semua tantangan tersebut. Harapan saya adalah agar seni dan budaya di Kalimantan Tengah terus berkembang dan mendapat dukungan penuh dari semua lapisan masyarakat. Kami juga berharap generasi muda semakin tertarik dan aktif dalam melestarikan warisan budaya ini," jelasnya lagi.

Pagelaran ini dimulai pada pukul 18.00 WIB dengan pembukaan oleh Kepala UPT Taman Budaya Provinsi Kalimantan Tengah, Wildae D Binti. Namun rangkaian kegiatannya telah dimulai sejak pagi hari dengan digelarnya Workshop Betang Batarung dengan tiga topik utama. Pertama, Pelestarian Alam dan Kesenian Dayak : "Tantangan dan Peluang" yang disampaikan oleh Okta Simon dari Yayasan WWF. Topik kedua, Kearifan Lokal dalam Pangan: "Membangun Ketahanan Pangan dan Lingkungan" yang disampaikan narasumber dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah. Ketiga, Melestarikan Alam dan Budaya Lewat Bercerita: "Mengasah Kemampuan Bercerita yang disampaikan Travel Storyteller, Eunike Fersa. Kegiatan kemudian dilakukan dengan penanaman pohon bersama para peserta workshop yang merupakan siswa SMA dari sekolah-sekolah yang ada di Palangka Raya.

Dukungan dan apresiasi pemerintah untuk pagelaran seni
Dalam sambutannya, Kepala UPT Taman Budaya Provinsi Kalimantan Tengah, Wildae D Binti menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam dan budaya tradisional Kalimantan Tengah sebagai warisan yang harus dijaga dan dilestarikan.

"Kami sangat mengapresiasi terselenggaranya Pagelaran Seni Betang Batarung ini. Kegiatan ini merupakan bentuk penghargaan pemerintah terhadap sanggar-sanggar seni budaya di Kalimantan Tengah. Ini juga merupakan bentuk apresiasi dari Pemerintah Provinsi terhadap upaya pelestarian budaya yang dilakukan oleh komunitas seni lokal," kata Wildae pada kesempatan yang sama.

Pagelaran ini menurut Wildae tidak hanya menampilkan berbagai pertunjukan seni tradisional, tetapi juga menyampaikan pesan penting tentang pelestarian alam dan budaya. Sesuai dengan tema kegiatan, acara ini berhasil menarik perhatian dan antusiasme masyarakat setempat.

"Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam upaya pelestarian budaya. Seni dan budaya adalah identitas kita, dan melalui kegiatan ini, kita dapat menjaga dan merawat warisan budaya kita untuk generasi mendatang," harapnya.

Semoga acara seperti ini terus diadakan untuk menjaga dan melestarikan kekayaan budaya Kalimantan Tengah. Apakah Anda tertarik untuk menghadiri acara serupa di masa depan?(TESTI PRISCILLA/j)