**Borneonews - Jakarta**, Anggota Komisi VII DPR RI, Dyah Roro Esti, menekankan pentingnya kolaborasi dalam transisi energi di Indonesia dengan Tiongkok. Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan kerjanya ke Tiongkok, di mana ia mencatat bahwa langkah ini sejalan dengan pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai peluang investasi dan komitmen global dalam mendukung transisi energi.
Menurut Roro, sektor energi di Indonesia menyumbang sekitar 30 persen emisi, sehingga diperlukan perubahan yang signifikan. Hal ini membuka kesempatan bagi Tiongkok untuk berinvestasi, terutama dalam teknologi bersih seperti *CCUS* (Carbon Capture, Utilization, and Storage), yang saat ini tengah dikembangkan. Ia menyebutkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil menjadi tantangan besar dalam menciptakan perubahan yang diinginkan.
Kunjungan kerja tersebut dilakukan untuk memperkuat kerja sama antara kedua negara dalam berbagai sektor, termasuk penanganan perubahan iklim, transisi energi, infrastruktur industri, serta pendidikan. Kegiatan ini bertepatan dengan dilaksanakannya *The 7th Indonesia China Energy Forum (ICEF)* yang diadakan di Bali, di mana Menteri Bahlil juga menegaskan pentingnya menjaga stabilitas investasi Tiongkok di Indonesia.
Menteri Bahlil menggarisbawahi bahwa sektor energi memegang peranan penting dalam kemajuan teknologi serta pertumbuhan ekonomi nasional. Ia mendorong upaya peningkatan perekonomian dan kemajuan teknologi, terutama dalam konteks transisi energi, guna memenuhi komitmen global untuk mencapai dekarbonisasi dan emisi nol bersih pada tahun 2060.
Selama berada di Tiongkok, Roro juga berkesempatan untuk bertemu dengan Wakil Ketua Departemen Hubungan Internasional Partai Komunis Tiongkok (CPC), Sun Haiyan. Dalam pertemuan ini, Roro menyampaikan pentingnya kerja sama antara Partai Golkar dan CPC dalam meningkatkan kapasitas anggota partai di kedua negara.
Roro mengapresiasi kemitraan ini dan menekankan bahwa Partai Golkar telah memulai usaha serupa melalui lembaga pendidikan internalnya, Golkar Institute. Ia menjelaskan bahwa Indonesia kini memasuki era bonus demografi, di mana banyaknya penduduk usia produktif dapat menjadi keuntungan strategis bagi negara.
Potensi ini menciptakan peluang besar bagi investasi dan kerja sama bilateral yang diharapkan akan membuka lapangan kerja secara masif di sektor industri. Roro Esti menekankan bahwa hal ini tidak hanya bermanfaat bagi devisa negara, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara umum.
ANTARA
Kolaborasi Indonesia dan Tiongkok dalam Transisi Energi Berkelanjutan
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Tavares Soroti Penyelesaian Akhir Persebaya Usai Kalah dari PSM
Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan Sampaikan Poin Tuntutan
DPKP Kotim Serahkan STD-B kepada Desa Bukit Indah, Data Pekebun Sawit Swadaya Diperkuat
Bobon Santoso Sajikan 3.000 Porsi Makanan untuk Petugas dan Warga Terdampak Karhutla di Tumbang Nusa
Jejak Kreativitas Penulis Kalteng Terabadikan dalam Buku Jejak Tutur di Punggung Aksara
Puncak BIK 2026 di Kobar, Pemkab Dorong Akses Keuangan Menjangkau UMKM hingga Desa
Komentar (0)
Memuat komentar…







