**Borneonews - Jakarta**, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, mengemukakan tiga poin penting yang dapat diambil dari penyelenggaraan Indonesia-Afrika Forum (IAF) Ke-2 yang berlangsung di Bali pada tanggal 1 hingga 3 September 2024.
Pertama, Retno menyoroti konsistensi *Bandung Spirit* sebagai acuan dalam pelaksanaan kerja sama antar negara di kawasan Selatan. Ia menegaskan bahwa semangat yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada tahun 1955 ini masih relevan dan bahkan kini menjadi pemandu dalam mengembangkan kerjasama antara negara-negara di belahan dunia selatan.
Retno menyatakan, "Bandung Spirit bukan sekadar tetap relevan, melainkan kini semakin relevan serta berfungsi sebagai cahaya yang menerangi jalur kerja sama di antara negara-negara selatan." Hal ini menunjukkan bahwa warisan diplomasi ini terus melanjutkan pengaruh positifnya dalam konteks kerjasama internasional.
Kedua, ia membahas tentang pentingnya kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan, sesuai dengan harapan negara-negara Afrika. Menlu Retno menegaskan bahwa kemitraan yang tidak hanya saling menguntungkan tetapi juga bebas dari ambisi geopolitik akan menjadi alternatif menarik dalam kerja sama internasional.
Afrika, menurut Retno, merupakan benua yang penuh potensi dengan populasi besar, mayoritas muda, dan kekayaan sumber daya manusia yang signifikan. "Ada keinginan yang tinggi untuk meningkatkan perdagangan dan investasi, terutama dalam sektor pembangunan, infrastruktur, industri hilir, pertanian, energi, kesehatan, dan lain-lain," ujarnya.
Ketiga, Retno membahas pentingnya kerja sama dalam pembangunan. Dia menerangkan bahwa negara-negara Afrika mengaharapkan peningkatan kapasitas dalam bidang pertanian dan pengembangan industri hilir. "Untuk mencapai dampak yang lebih signifikan, kerja sama tripartit menjadi salah satu pilihan strategi yang relevan," imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa IAF Ke-2 menutup acara dengan hasil yang membanggakan, dengan peningkatan angka *deliverables* atau hasil kerja sama konkret mencapai 3,5 miliar dolar AS. Sektor-sektor yang terlibat meliputi energi, kesehatan, pangan, infrastruktur, dan industri strategis.
Retno juga mencatat bahwa jumlah kesepakatan bisnis yang dihasilkan dari IAF Ke-2 meningkat pesat dibandingkan dengan IAF Ke-1 yang diadakan pada tahun 2018, yang hanya menghasilkan kesepakatan senilai 586 juta dolar AS.
Selain itu, beberapa *memorandum of understanding* (MoU) juga ditandatangani selama penyelenggaraan IAF Ke-2. MoU tersebut mencakup kerjasama dalam pengelolaan energi panas bumi, pengembangan tenaga matahari, kerja sama farmasi, serta transfer teknologi vaksin.
"Juga terdapat *letter of intent* (LoI) mengenai pembelian dan pemeliharaan pesawat oleh Republik Demokratik Kongo dan Senegal," tuturnya.
IAF Ke-2 dilaksanakan bersamaan dengan Forum Tingkat Tinggi Kemitraan Multipihak (HLF-MSP) untuk mendorong terlaksananya kerjasama pembangunan bersama dengan negara-negara di Afrika. Sebelumnya, Pertemuan Indonesia-Afrika Parliamentary Forum (IAPF) diadakan di Bali dari tanggal 31 Agustus hingga 2 September 2024.
ANTARA
Pentingnya Kerja Sama dalam Indonesia-Afrika Forum Ke-2 di Bali
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Bayi Laki-Laki Ditemukan di Pelataran Musala di Kotabaru
Warga Kasongan Dihebohkan Penemuan Mayat Membusuk di Parit Jalan DI Panjaitan
Topan Champi Ancam Taiwan, Sekolah dan Perkantoran Ditutup di 20 Wilayah
Distribusi Masih Jadi Hambatan, Industri Komik Indonesia Dinilai Punya Potensi Besar
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Komentar (0)
Memuat komentar…







