**Borneonews - Jakarta**, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengidentifikasi bahwa paparan terhadap ideologi radikalisme dan terorisme yang dialami oleh perempuan dan anak-anak sering kali dimulai dari lingkungan keluarga. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Utama BNPT, Bangbang Surono, dalam sebuah forum yang disiarkan secara daring.
Bangbang mengambil contoh kasus tragedi bom bunuh diri yang melibatkan dua keluarga di Surabaya pada tahun 2018. Dalam insiden tersebut, ada dua pasang suami istri beserta anak-anak mereka yang terlibat, yang menciptakan fenomena baru dalam aksi terorisme di Indonesia. Menurutnya, serangan ini merupakan yang pertama di dunia yang melibatkan keluarga sebagai pelaku teror, berbeda dengan pola yang umum terjadi di luar negeri, di mana anak-anak jarang sekali dilibatkan dalam tindakan teroris.
Berdasarkan riset dari I-Khub *Outlook* BNPT 2023, Bangbang mengungkapkan adanya tiga kelompok yang sangat rentan terhadap proses radikalisasi: perempuan, anak-anak, dan remaja. Dengan pemahaman ini, BNPT kini menjalankan berbagai program yang fokus pada penguatan ketahanan keluarga, atau yang dikenal dengan istilah *family resilience*, untuk mencegah agar perempuan dan anak tidak terpapar ideologi radikal.
Bangbang menekankan bahwa jika ketahanan di tingkat keluarga sudah kuat, maka ketahanan individu terhadap paparan radikalisasi di tingkat publik atau nasional juga akan meningkat. Dia menjelaskan bahwa hal ini penting untuk membangun *public resilience* dan *national resilience*.
BNPT mencatat sejumlah langkah yang saat ini sedang dilaksanakan untuk membangun ketahanan keluarga terhadap paham radikalisme dan terorisme. Salah satunya adalah menjalin kerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dalam hal penanggulangan tindak pidana terorisme yang menyasar perempuan dan anak.
Ruang lingkup kerja sama ini meliputi pelaksanaan program-program pemberdayaan masyarakat, penanganan perlindungan khusus bagi anak-anak yang menjadi korban jaringan terorisme, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pertukaran data dan informasi yang relevan.
Selain itu, terdapat pula program pencegahan radikalisme yang menggunakan model SMART (Sehat Mental Keluarga Cerdas dan Tangguh). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya radikalisme dan menegaskan peran penting keluarga dalam mencegah penyebaran paham-paham negatif.
Bangbang berharap melalui berbagai upaya ini, masyarakat, terutama perempuan, anak-anak, dan remaja, dapat mengembangkan daya tahan dan daya tangkal terhadap ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Dia menuturkan bahwa meskipun ideologi kekerasan berusaha menyusup ke dalam jiwa masyarakat, jika generasi muda memahami dengan baik ideologi kebangsaan, mereka akan memiliki kekuatan untuk bertahan.
ANTARA
Membangun Ketahanan Keluarga untuk Cegah Radikalisasi pada Anak
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Wamen LH: Jaga Kelestarian Ekosistem Perairan Dimulai dari Daratan
Jet Tempur AS Cegat Pesawat umum Dekat Kediaman Trump di Florida
Peneliti Jepang Temukan Tutup Botol Bawa Ekosistem Laut Filipina
Wembanyama Bawa Spurs Kalahkan Mavericks 122-106
Imam Besar: Serangan Berulang ke Mekkah Bongkar Niat Kriminal Houthi
Kemenpar-BPOLBF Gandeng Agen Wisata Tiongkok Perluas Pasar Labuan Bajo
Komentar (0)
Memuat komentar…







