BORNEONEWS, Palangka Raya -SMK Budi Mulya Palangka Raya melaksanakan arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia bahwa perpeloncoan harus dihilangkan dari aktivitas Masa Orientasi Siswa (MOS) dalam penerimaan siswa baru.
Pantauan Borneo News, tidak tampak ada atribut aneh yang biasanya mewarnai aktivitas MOS. Seluruh siswa baru hanya menggunakan seragam sekolah rapi dan duduk santai di dalam kelas mendengarkan aneka penyuluhan yang disampaikan langsung oleh guru-guru dan pembicara yang diundang.
"OSIS tidak kita libatkan untuk menghadapi siswa baru. OSIS sekadar membantu persiapan seperti konsumsi, menyiapkan ruangan, menyiapkan sound system, tidak ada sama sekali mengatur siswa baru," terang Sulistiani, Kepala SMK Budi Mulya, Palangka Raya Sulistiani.
Ia mengatakan, siswa yang diterima kali ini mencapai 39 orang, sedangkan kuota yang disediakan untuk satu kelas sebenarnya hanya 15-20 orang.
"Ini karena kami tidak punya ruangan. Tapi mau kami tolak, sepertinya susah juga karena banyak dari mereka berasal dari daerah luar Palangka Raya. Kebanyakan dari Kotim. Sebagian memang ada yang tinggal di Panti Asuhan Budi Mulya, sebagian ada yang ikut keluarga di sini makanya kami susah juga mau menolaknya," tambahnya.
Memang SMK Budi Mulya berada di bawah naungan yayasan yang juga menangani anak yatim piatu. Oleh karena itulah banyak siswa tidak mampu yang mengincar untuk dapat bersekolah di sini.
"Karenanya kita tidak mau ada perpeloncoan. MOS kita isi dengan kegiatan penyuluhan. Kemudian juga untuk materi pengolahan hasil pertanian, pemanfaatan limbah, narkoba dan perlindungan anak kita datangkan narasumber dari luar seperti dosen dan wirausaha yang sudah sukses di bidang pertanian," tuturnya.
SMK Budi Mulya memang sekolah jurusan yang mengkhususkan pada bidang Pertanian. Maka tidak heran jika kelas diisi dengan materi pelajaran seperti Agribisnis, Tanaman Pangan dan Hortikultural. (TESTI PRISCILLA/m)








