**Borneonews - Jakarta**, Dewan Pengawas Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Darmin Nasution, mengemukakan pentingnya perjuangan untuk komoditas sawit guna memberikan dampak positif terhadap perekonomian. Menurutnya, sekitar 16 juta pekerja, yang mayoritas adalah petani, bergantung pada industri ini untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Dalam acara peluncuran buku berjudul *Sawit, Anugerah Yang Perlu Diperjuangkan* di Jakarta, Darmin menegaskan bahwa masyarakat Indonesia seharusnya sangat memperjuangkan keberadaan sawit. "Sungguh aneh jika kita tidak berupaya melestarikan dan mengembangkan potensi yang ada dalam komoditas ini," ujarnya. Buku yang diluncurkan ini mengangkat tema mengenai sejarah, potensi, serta upaya untuk mengelola sawit secara berkelanjutan.
Dia menyatakan bahwa Indonesia sangat beruntung memiliki sumber daya alam yang subur, sehingga pengembangan pohon sawit dapat dilakukan dengan baik, bahkan lebih baik dibandingkan di negara asalnya, Afrika. Darmin menambahkan, saat ini Indonesia telah menjadi produsen *crude palm oil* (CPO) terbesar di dunia berkat kerja keras dan kerjasama dari berbagai pihak.
Peran sawit dalam perekonomian nasional, kata Darmin, sangat signifikan dan tidak bisa diabaikan. Tumbuhan yang asalnya dari Afrika ini kini menghidupi lebih dari 16 juta masyarakat Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu aspek positif dari pengembangan sawit adalah kemajuan hilirisasi produk sawit, yang berkontribusi terhadap perekonomian di berbagai daerah.
Darmin juga memperingatkan bahwa kebijakan yang tidak tepat dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan masyarakat yang terlibat dalam industri ini. Ia menjelaskan, hilirisasi sawit telah menghasilkan 179 jenis produk turunan pada tahun 2023. Selain berperan penting dalam menyediakan produk pangan, sawit juga digunakan dalam industri kosmetik, kesehatan, dan biofuel.
Lebih lanjut, Darmin menekankan bahwa sawit memiliki potensi besar sebagai bahan baku *bioavtur* untuk sektor penerbangan di masa depan, sekaligus mendukung komitmen Indonesia untuk mencapai net zero emissions pada tahun 2060. Dengan sumber bahan baku yang kaya, Indonesia berpeluang menjadi produsen energi terbarukan terbesar.
Namun, Darmin mengingatkan bahwa pencapaian Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia tidak terwujud dengan mudah. Ia menyoroti sejarah perjalanan industri sawit yang penuh tantangan, termasuk pengalaman menghadapi oversupply CPO pada tahun 2011 yang menurunkan harga secara drastis dan mengakibatkan kerugian.
Meskipun pada tahun 2011 perdagangan Indonesia sempat surplus sebesar 26,1 miliar dolar AS, namun pada tahun berikutnya mengalami defisit sebesar 1,7 miliar dolar AS. Penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) akibat krisis harga CPO global berimbas langsung pada kesejahteraan petani sawit di berbagai daerah.
Pelajaran berharga dari pengalaman tersebut adalah pentingnya kebijakan yang dapat menyeimbangkan antara pasokan dan permintaan. Darmin menekankan perlunya menciptakan sumber permintaan yang dapat memastikan stabilitas harga CPO. Oleh karena itu, perluasan hilirisasi dalam industri sawit sangat diperlukan, terutama dalam konteks kebutuhan produksi pangan dan energi terbarukan, termasuk program pencampuran biodiesel yang sedang dijalankan saat ini.
ANTARA
Perjuangan Komoditas Sawit untuk Perekonomian Indonesia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Yusril: Kebijakan Publik Harus Berorientasi Kepentingan Masyarakat
Raharjati Nursamsa Raih Perak World Climbing Series di Chile
ISPU Kapuas Melonjak dari 1.657 ke 2.406 dalam Sejam, Udara Berstatus Berbahaya
Imam/Fairuz Tempati Peringkat Keempat AVC Suma Open 2026
Kemenperin Bidik Industri Animasi Perluas Penyerapan Tenaga Kerja
Wamenekraf Ajak Pelaku Ekraf Daerah Bidik Pasar Lebih Luas
Komentar (0)
Memuat komentar…







