**Borneonews - Jakarta**, Pemerintah Indonesia menghadapi dua tantangan utama dalam upaya mencapai target emisi nol bersih pada tahun 2060. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengidentifikasi tantangan tersebut dalam sebuah forum yang digelar di Jakarta.
Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi di Kementerian ESDM, menjelaskan bahwa tantangan pertama adalah pemangkasan emisi dari pembangkit listrik yang sudah beroperasi, terutama yang mengandalkan batu bara. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah tengah berupaya melakukan transisi dari penggunaan batu bara menuju sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Selain itu, tantangan kedua yang dihadapi adalah meningkatkan kontribusi energi terbarukan, seperti *solar*, *wind*, *hydro*, serta sumber energi baru seperti hidrogen dan amonia. Hal ini menjadi semakin penting mengingat dominasi listrik yang berasal dari batu bara masih sangat tinggi.
Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk mencapai kapasitas terpasang energi terbarukan sebesar 367 gigawatt (GW) pada tahun 2060. Di antara berbagai sumber energi terbarukan tersebut, tenaga surya diharapkan menjadi kontributor terbesar dengan target kapasitas mencapai 115 GW. Diikuti oleh tenaga air yang ditargetkan mencapai 46 GW, serta pembangkit listrik tenaga angin dengan kapasitas 37 GW.
Eniya menegaskan bahwa setelah tahun 2030, tidak akan ada lagi pembangkit listrik baru yang menggunakan batu bara. Namun begitu, pelaksanaan rencana tersebut diperkirakan tidak akan berjalan mulus. Salah satu kendala yang signifikan adalah menjaga stabilitas dari jaringan listrik yang ada.
Peningkatan penggunaan energi terbarukanseperti *solar* dan *wind*yang memiliki karakter fluktuatif menuntut adanya sistem jaringan yang lebih fleksibel dan andal. Jalan keluar untuk tantangan ini antara lain adalah melalui investasi dalam teknologi penyimpanan energi, contohnya *batteries*, serta pengembangan sistem jaringan pintar.
Lebih lanjut, Eniya menyebutkan bahwa di sejumlah wilayah di Indonesia bagian timur, jaringan listrik masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penerapan teknologi penyimpanan energi seperti baterai menjadi sangat penting agar dapat menyediakan pasokan listrik yang stabil dan memadai.
Saat ini, kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia tercatat mencapai 91 gigawatt. Sumber energi dari fosil, khususnya batu bara, masih mendominasi. Menurut data dari Kementerian ESDM, di tahun 2023, kapasitas terpasang energi terbarukan sudah mencapai 13.155 MW atau 13,16 GW. Dalam hal ini, pemanfaatan energi terbarukan mayoritas berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang mencapai 6.784 MW, diikuti oleh bioenergi (3.195 MW), panas bumi (2.417 MW), sementara pemanfaatan energi surya terdata sebesar 573 MW.
Data dari Dewan Energi Nasional (DEN) menunjukkan bahwa pada tahun 2023, bauran energi masih didominasi oleh batu bara (40,46 persen), diikuti minyak bumi (30,18 persen), gas bumi (16,28 persen), dan Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 13,09 persen.
ANTARA
Indonesia Hadapi Dua Tantangan Menuju Emisi Nol Bersih 2060
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Aston Martin Gunakan Livery Spesial di GP Amerika Serikat
BRI Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun di Tengah Gejolak Pasar Modal
Bank Mandiri Beri Nilai Tambah ke Pemegang Saham Lewat Dividen-Buyback
Klinik Bersalin di Palangka Raya Bisa Terbitkan KIA hingga Perubahan KK untuk Anak Baru Lahir
Maidi Divonis 5 Tahun dalam Perkara Pemerasan Berkedok CSR
Harga Cabai Rawit Merah Rp90 Ribu per Kg, Pemkab Kobar Siapkan Bantuan Bibit
Komentar (0)
Memuat komentar…







