PALANGKARAYA –
**Borneonews - Muara Teweh**, Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara, yang terletak di Kalimantan Tengah, baru-baru ini menyelenggarakan pelatihan dasar mengenai penanganan kegawatdaruratan. Pelatihan ini, yang dikenal dengan istilah *Basic Trauma Life Support* (BTCLS), menyasar perawat yang bekerja di 17 puskesmas di wilayah tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Barito Utara, Pariadi AR, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu langkah strategis dalam meningkatkan kompetensi perawat, khususnya dalam mengatasi masalah kegawatdaruratan yang disebabkan oleh trauma serta gangguan yang berkaitan dengan sistem kardiovaskuler. Menurutnya, penanganan yang cepat dan tepat dari tahap *pre-hospital* hingga *intra-hospital* sangat krusial untuk menurunkan risiko kecacatan dan angka kematian. “Melalui pelatihan ini, perawat diharapkan dapat melakukan pengkajian awal serta memberikan penanganan dasar yang diperlukan. Dengan demikian, dapat menyelamatkan nyawa pasien dan mencegah kemungkinan kecacatan,” ujarnya. Pelatihan ini dirancang untuk perawat yang sudah praktis, calon perawat yang sedang menempuh pendidikan keperawatan di semester akhir, serta perawat baru yang baru saja menyelesaikan pendidikan. Dinas Kesehatan juga telah mempersiapkan pelatihan tambahan dalam bidang keperawatan gawat darurat, yang mencakup tingkat dasar, *intermediate*, dan *advanced*, untuk memperkuat serta mengembangkan keterampilan mereka. Sebagai ujung tombak dalam pelayanan kesehatan primer, puskesmas memiliki peranan penting dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat. Oleh karena itu, pelatihan BTCLS dianggap vital bagi perawat puskesmas. Keterampilan yang diperoleh dari pelatihan ini dapat membantu perawat dalam mencegah kematian atau kerusakan organ pada korban yang mengalami kondisi gawat darurat, serta mengurangi tingkat kecacatan akibat trauma dan masalah jantung. Dalam konteks yang lebih luas, data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi Penyakit Jantung Koroner (PJK) di Indonesia terus meningkat. Data tersebut mencerminkan bahwa sebelumnya penyakit ini lebih umum di kalangan orang tua, kini mulai banyak dialami oleh kelompok usia muda, khususnya yang berusia 25 hingga 34 tahun. Selain itu, prevalensi PJK lebih tinggi di kalangan wanita dibandingkan pria, dan penduduk di daerah perkotaan lebih rentan terhadap penyakit ini ketimbang penduduk desa. Kondisi gawat darurat yang disertai dengan PJK yang tidak ditangani dengan baik dapat berisiko mengakibatkan henti jantung, bahkan kematian. Tidak hanya itu, cedera juga menjadi masalah serius, terutama di kalangan penduduk usia produktif, yakni mereka yang berusia 15 hingga 24 tahun. Cedera paling umum terjadi akibat kecelakaan lalu lintas, dengan lokasi kejadian yang paling banyak ditemukan di rumah dan sekitarnya. Pelatihan ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari 17 puskesmas di Kabupaten Barito Utara. Pelatihan dilaksanakan dalam metode campuran, yaitu daring selama tiga hari dari lokasi masing-masing peserta, diikuti dengan sesi luring di aula Dinas Kesehatan setempat selama tiga hari berikutnya. Dengan langkah ini, diharapkan kompetensi dan kesiapsiagaan perawat dalam menghadapi situasi darurat semakin meningkat. ANTARA