PONTIANAK –
**Borneonews - Pontianak**, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supadio melaporkan adanya peningkatan jumlah titik panas di Kalimantan Barat, dengan total 4.168 titik panas yang terpantau pada tanggal 4 September. Informasi tersebut diperoleh dari pemantauan Satelit *Himawari*, yang mendeteksi penyebaran titik panas di berbagai wilayah provinsi ini. Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio, Sutikno, menyatakan bahwa banyaknya titik panas ini menunjukkan peningkatan suhu permukaan yang signifikan. Peningkatan suhu ini sering kali menjadi indikasi awal terjadinya kebakaran, khususnya di daerah-daerah yang memiliki risiko lebih tinggi. Sutikno menjelaskan bahwa potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat setelah akhir bulan Agustus. Sejak tanggal 31 Agustus, hujan sudah tidak turun, sehingga memicu kemunculan sejumlah titik panas. Dalam waktu empat hari, hingga 4 September, terdapat sekitar 8.000 titik panas terdeteksi, sebagian besar dalam kategori risiko tinggi untuk terjadinya kebakaran. Kondisi ini diperburuk oleh fenomena cuaca ekstrem yang melanda bagian utara Indonesia. Menurutnya, ketidakmampuan Kalimantan Barat untuk menerima hujan disebabkan oleh keberadaan Siklon Tropis Yagi yang berada di Laut Cina Selatan dan Filipina. Siklon ini menarik banyak uap air dari daerah sekitar, sehingga potensi hujan di Kalbar menjadi sangat minim. BMKG juga memperingatkan bahwa meskipun ada potensi curah hujan dalam seminggu ke depan, curah hujan tersebut diperkirakan tidak cukup untuk mengatasi kondisi kering yang memicu kebakaran. Setelah tanggal 12 September, diperkirakan situasi ini tidak akan berubah dan risiko kebakaran tetap tinggi. Sutikno menyarankan masyarakat untuk menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar. Kebijakan ini penting untuk mencegah kebakaran hutan yang lebih serius, yang dapat merusak lingkungan serta berdampak negatif pada kesehatan masyarakat. Seiring meningkatnya titik panas dan ancaman kebakaran, BMKG mengingatkan agar pemerintah daerah dan masyarakat lebih waspada. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama pada musim kering saat ini. Pihak berwenang juga diminta untuk cermat memantau area yang rawan terbakar serta melakukan langkah-langkah pencegahan lebih awal. Lebih lanjut, BMKG menegaskan bahwa pencegahan karhutla di Kalbar memerlukan dukungan dari berbagai pihak, tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat dan perusahaan-perusahaan yang berkecimpung dalam sektor perkebunan dan pertanian. Langkah-langkah pencegahan seperti patroli dan edukasi masyarakat serta penggunaan teknologi pemantauan dapat menjadi kunci untuk menghindari bencana kebakaran yang lebih besar. Dengan lebih dari 4.000 titik panas yang terpantau dalam waktu singkat, Kalimantan Barat menghadapi ancaman serius terhadap karhutla. Kebakaran hutan tidak hanya dapat merusak ekosistem, tetapi juga memperburuk kualitas udara, yang berakibat pada kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, Sutikno mengharapkan pemerintah daerah dapat memperketat pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan. Tindakan cepat untuk memadamkan api juga sangat diperlukan. Kerja sama semua pihak dianggap esensial dalam menghadapi ancaman kebakaran. Segera bertindak akan meningkatkan peluang untuk mencegah kerugian yang lebih besar. Dalam suasana cuaca yang tidak menunjukkan perubahan berarti, upaya pencegahan kebakaran harus semakin ditingkatkan hingga datangnya musim hujan yang sesungguhnya. ANTARA