JAKARTA –
**Borneonews - Beijing**, Presiden China, Xi Jinping, mengajak negara-negara di Afrika untuk melaksanakan modernisasi yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan dengan dukungan teknologi rendah karbon. Dalam pidatonya pada pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi Forum on China-Africa Cooperation (FOCAC) 2024, Xi menekankan pentingnya pembangunan hijau sebagai identitas modernisasi di era baru. Menurutnya, sinergi dalam memajukan modernisasi yang berkelanjutan menjadi kewajiban bersama. Dalam konteks ini, China menawarkan bantuannya kepada negara-negara Afrika untuk membangun apa yang disebut sebagai "mesin pertumbuhan hijau," yang pada akhirnya dapat membantu mengatasi kesenjangan dalam akses energi serta berkontribusi pada transisi global menuju pembangunan yang lebih hijau dan rendah karbon. KTT FOCAC 2024 dilaksanakan di Beijing dari tanggal 4 hingga 6 September 2024, dan merupakan pertemuan resmi antara China dan 53 negara Afrika (selain Eswatini), bersama dengan Komisi Uni Afrika, yang telah beroperasi sejak tahun 2000 dan mengadakan pertemuan puncak setiap tiga tahun sekali. Xi menegaskan bahwa perdamaian dan keamanan merupakan syarat mutlak untuk mencapai modernisasi. Tidak ada pembangunan yang dapat berlangsung dengan baik jika lingkungan tidak kondusif untuk pertumbuhan ekonomi. Lebih lanjut, Xi menyatakan komitmen China untuk membantu Afrika dalam memperkuat kapasitasnya dalam mempertahankan perdamaian dan stabilitas secara mandiri. Dia menegaskan bahwa Afrika menjadi prioritas dalam pelaksanaan Prakarsa Keamanan Global serta akan bekerja sama lebih erat untuk menjaga perdamaian world. Dalam pidatonya, ia juga menyinggung pentingnya modernisasi yang setara. Xi menyatakan bahwa setiap negara diizinkan untuk mengeksplorasi jalur modernisasi yang sesuai dengan kontekstualisasi nasional mereka, bukan sekadar mengikuti standar universal. Modernisasi versi China dinyatakan sebagai suatu proses yang terbuka dan saling menguntungkan. Persuasif dalam pendekatannya, Xi menambahkan bahwa China berkomitmen untuk memperdalam kerja sama di berbagai sektor, termasuk industri, pertanian, infrastruktur, perdagangan, dan investasi. Proyek-program kerjasama dalam kerangka *Belt and Road Initiative* diupayakan agar berkualitas tinggi dan mampu menjadi model bagi pelaksanaan Inisiatif Pembangunan Global. Xi juga menjelaskan bahwa tujuan akhir dari modernisasi adalah pencapaian pembangunan manusia yang komprehensif dan bebas. Dia ingin memastikan bahwa selama proses tersebut, aspek pelatihan, pengurangan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan keamanan masyarakat menjadi bagian integral dari proses modernisasi. Dia mengajak negara-negara Afrika untuk bersinergi dalam modernisasi yang menghargai keberagaman dan inklusi. Upaya untuk memperkuat interaksi antar masyarakat dan pertukaran budaya menjadi bagian dari strategi untuk membangun hubungan yang saling menghormati dan koeksistensi antar peradaban dalam rangka mencapai keberhasilan bersama. Presiden Mauritania, Mohamed Ould Cheikh El Ghazouani, yang juga menjabat sebagai Ketua Uni Afrika (AU), menyatakan bahwa dukungan, stabilitas keamanan, dan bantuan dalam pembangunan merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh negara-negara Afrika untuk aktif berpartisipasi dalam skema pembangunan global. Dia menegaskan pentingnya pembentukan sistem politik dunia yang seimbang agar setiap negara dapat memperoleh manfaat dari modernisasi secara adil, hal ini mencerminkan kerja sama yang terjalin melalui *Belt and Road Initiative* yang dicetuskan oleh China. Sejak berdirinya FOCAC, perusahaan-perusahaan asal China membantu negara-negara di Afrika dalam pembangunan infrastruktur, termasuk lebih dari 10.000 km rel kereta api, 100.000 km jalan raya, 1.000 jembatan, dan hampir 100 pelabuhan. Teknologi pertanian dari China juga diklaim mampu meningkatkan hasil pertanian lokal antara 30% hingga 60%. Data dari Kementerian Perdagangan China menunjukkan bahwa antara Desember 2021 dan Juli 2024, nilai impor China dari Afrika mencapai 305,9 miliar dolar AS, menjadikan China sebagai mitra dagang utama Afrika selama 15 tahun berturut-turut. KTT FOCAC 2024 dihadiri oleh sejumlah pemimpin negara, antara lain Presiden Senegal, Bassirou Diomaye Faye, Presiden Mauritania, Mohamed Ould Cheikh El Ghazouani, Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, dan pejabat tinggi lainnya, termasuk Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres. ANTARA