SURABAYA –
**Borneonews - Surabaya**, Bank Jatim bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) melakukan sinergi untuk mendukung petani di Malang melalui penandatanganan perjanjian kerja sama. Fokus dari kolaborasi ini adalah pada Pengembangan Kemitraan *Closed Loop Agribisnis Hortikultura*. Direktur Mikro, Ritel, dan Menengah Bank Jatim, R Arief Wicaksono, menyampaikan bahwa ruang lingkup kerjasama ini mencakup verifikasi dokumen petani yang mengajukan pembiayaan, baik melalui kredit usaha rakyat (KUR) maupun skema kredit lainnya. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dorongan dalam meningkatkan produksi dan produktivitas komoditas hortikultura di Kabupaten Malang. Dalam kerja sama ini, Bank Jatim juga berkomitmen untuk memberikan pendampingan dalam manajemen ekonomi usaha pertanian, serta pengelolaan keuangan untuk memaksimalkan pemanfaatan KUR atau model pembiayaan lain. Selain itu, mereka akan memfasilitasi peningkatan inklusi keuangan untuk para petani dalam mendukung budidaya pertanian dalam kerangka *closed loop agribusiness*. Arief menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memberikan solusi dari hulu ke hilir. Dengan demikian, rantai pasok akan tertata dengan baik dan mampu memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani. Ia menambahkan, akses pembiayaan yang baik memiliki peran penting dalam menciptakan usaha pertanian yang menguntungkan serta berkelanjutan. Melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) ini, Bank Jatim berkomitmen membantu petani dengan memberikan akses kepada kredit yang terjangkau. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan manfaat yang diperoleh petani dari program *closed loop* tersebut. Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Hortikultura Kemenko Perekonomian Yuli Sri Wilanti menekankan harapannya agar program *closed loop agribisnis hortikultura* dapat meningkatkan produktivitas pertanian di Kabupaten Malang dan memberikan kepastian harga bagi petani. Ia menginformasikan bahwa saat ini sudah terdapat tujuh daerah di Jawa Timur yang menjadi lokasi pilot project untuk penerapan program ini, di antaranya Jember, Jombang, Pasuruan, dan Malang. Yuli menjelaskan bahwa melalui program ini, mereka berupaya membangun ekosistem yang komprehensif, mulai dari penyediaan sarana produksi seperti pupuk dan bibit, pembiayaan, hingga pendampingan budidaya berdasarkan praktik pertanian yang baik dan penerapan *smart farming*. Dengan realisasi program *closed loop*, petani diharapkan tidak lagi perlu khawatir mengenai proses penanaman dan pemasaran hasil pertanian, karena semua aspek tersebut akan terintegrasi dalam kerja sama ini. "Kemitraan seperti ini memungkinkan pola tanam yang lebih teratur sesuai permintaan pasar, sehingga mengurangi risiko over supply yang dapat menurunkan harga," ungkapnya. Bupati Malang, Sanusi, menambahkan bahwa keberhasilan program kemitraan ini diharapkan dapat menjadi kisah sukses masa depan dalam pengembangan sektor hortikultura di Jawa Timur. Keterlaksanaan program ini dapat menjadi dasar untuk pengembangan lebih luas di daerah lain, sehingga memberikan dampak yang signifikan. Ia berharap pembangunan sektor hortikultura di Kabupaten Malang dapat terus berkembang dan maju ke depannya. ANTARA