JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Konsultan gastroenterologi dan hepatologi dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani, SpPD-KGEH, menyatakan bahwa pemanfaatan media sosial dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit hepatitis. Dalam sebuah sesi webinar yang berlangsung di Jakarta, Rino menjelaskan pentingnya merespons tren penyebaran informasi di kalangan masyarakat saat ini. Ia menyarankan bahwa media sosial telah menjadi salah satu sarana utama dalam menyampaikan informasi secara luas. "Saat ini, media sosial adalah platform yang paling digunakan untuk menyampaikan informasi. Oleh karena itu, kita perlu memanfaatkannya dengan baik," tambahnya. Menurutnya, untuk edukasi publik mengenai risiko infeksi hepatitis, informasi sebaiknya disampaikan dengan pendekatan yang lebih informal dan relevan dengan tren yang ada. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya deteksi dini serta pemeriksaan rutin untuk mencegah penyakit ini. "Ketika informasi disampaikan secara formal, partisipasi masyarakat cenderung rendah. Oleh karena itu, penting untuk menyampaikan informasi dengan cara yang lebih menarik dan mengikuti tren yang sedang berkembang," ungkapnya. Rino juga mengusulkan bahwa momentum hari bebas kendaraan bermotor atau *car free day* (CFD) dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk meningkatkan sosialisasi tentang hepatitis, sehingga informasi dapat menjangkau lebih banyak orang. "Kegiatan semacam ini mendekatkan kita pada masyarakat, karena dalam waktu yang singkat kita bisa menjangkau banyak peserta," ujarnya. Ia menekankan bahwa usaha untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tidak dapat dilakukan secara sporadis. Diperlukan pendekatan yang konsisten dan berkelanjutan agar masyarakat semakin paham dan sadar akan keberadaan penyakit hepatitis. "Penting untuk diketahui, upaya ini tidak cukup dilakukan satu atau dua kali. Kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan melalui penjelasan yang berulang," tambahnya. Dari sisi kelembagaan, Ahli Madya Tim Kerja Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan Kementerian Kesehatan, Bunga Mayung Datu Linggi, memberikan informasi bahwa prevalensi kasus hepatitis B dan C di Indonesia telah menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (*Riskesdas*), prevalensi hepatitis B pada semua usia tercatat sebesar 7,1 persen pada tahun 2013, sementara pada tahun 2023 angkanya menurun menjadi 2,4 persen. Penurunan ini juga terlihat pada kasus hepatitis B di kalangan balita, dari 4,2 persen pada tahun 2013 menjadi 0,1 persen pada tahun 2023. Penyakit hepatitis C pun menunjukkan penurunan prevalensi. Data dari *Riskesdas* dan Organisasi Kesehatan Dunia (*WHO*) mencatat bahwa prevalensi hepatitis C untuk semua usia mengalami penurunan dari 1 persen pada tahun 2013 menjadi 0,5 persen pada tahun 2022. ANTARA