PALEMBANG –
**Borneonews - Palembang**, Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Cabang Palembang telah menyatakan kesiapannya untuk memberikan pendampingan kepada empat anak di bawah umur yang menjadi tersangka dalam kasus dugaan *rudapaksa* dan pembunuhan seorang siswi SMP di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Ketua Himpsi Cabang Palembang, Erma Susilowati, mengungkapkan bahwa apabila diperlukan, mereka akan siap melakukan pendampingan. Ia menegaskan, mengingat usia tersangka yang masih di bawah umur, penting bagi mereka untuk mendapatkan perhatian khusus. "Kami akan terus mengikuti perkembangan kasus ini," ujarnya. Himpsi Palembang dilengkapi dengan tim profesional yang akan memberikan pendampingan psikologis bagi anak-anak tersebut jika dibutuhkan. Erma meyakini bahwa pihak kepolisian, melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, juga sudah melakukan upaya pelayanan psikologis kepada anak-anak yang terlibat dalam kasus ini. Menurut Erma, dalam konteks hukum, anak-anak di bawah umur sangat memerlukan kehadiran pendamping psikologis serta pengacara. Hal ini penting untuk menjamin hak-hak mereka tetap terjaga selama proses hukum berlangsung. "Saya yakin, penyidik telah menyediakan pendampingan psikologis dari institusi kepolisian, dan kehadiran pengacara saat pemeriksaan juga sangat krusial," tambahnya. Sebelumnya, catatan kasus ini terungkap oleh penyidik Polrestabes Palembang yang mengungkapkan pembunuhan dan dugaan *rudapaksa* terhadap seorang siswi SMP di TPU Talang Kerikil, Kecamatan Sukarami. Menurut penjelasan polisi, terdapat empat anak lelaki sebagai tersangka, di mana tiga di antaranya masih berstatus anak-anak. Erma menyatakan keprihatinan terhadap peristiwa yang terjadi. Namun, yang lebih utama adalah penanganan yang baik terhadap para tersangka. "Kami sangat prihatin dengan kejadian tragis ini, tetapi perlu diingat bahwa tindakan terhadap anak di bawah umur memerlukan perhatian khusus," tuturnya. Ia menambahkan, tidak tepat untuk menyalahkan satu pihak dalam kasus ini. Menurutnya, anak-anak masa kini memiliki interaksi sosial yang lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. "Mereka sudah bergaul dengan banyak teman dan memiliki akses yang mudah terhadap *gadget*, yang memungkinkan mereka mengakses informasi yang mungkin belum saatnya mereka ketahui," ungkap Erma. Kondisi ini bukan hanya terjadi di Palembang, melainkan juga di berbagai tempat lain dengan faktor penyebab yang mirip. "Pendampingan tidak hanya akan diberikan kepada keempat bocah yang menjadi terduga pelaku, tetapi juga kepada orang tua mereka yang tentunya mengalami *shock* akibat insiden ini," tuturnya. Erma juga menekankan pentingnya menjaga kondisi psikologis orang tua korban, agar mereka dapat mengambil posisi yang tepat dalam proses penuntasan kasus ini dengan cara yang konstruktif. ANTARA