JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Senior Country Officer JP Morgan Indonesia, Gioshia Ralie, mengungkapkan bahwa saat ini tingkat suku bunga di Indonesia masih tergolong tinggi. Dalam sebuah sesi media yang diselenggarakan oleh JP Morgan di The Energy Building, Jakarta, Gioshia menjelaskan bahwa kondisi ini memiliki dampak signifikan terhadap aktivitas bisnis di tanah air. Dia menekankan bahwa tingginya *interest rate* berpotensi mengubah perilaku korporasi di Indonesia, dimana mereka menjadi lebih berhati-hati dalam menjalankan kegiatan usaha. Hal ini disebabkan oleh biaya yang harus dikeluarkan dalam menjalankan bisnis yang semakin meningkat akibat suku bunga yang tinggi. Gioshia juga menyebutkan bahwa fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah berperan penting dalam pengambilan keputusan perusahaan. Jika nilai tukar rupiah melemah, maka korporasi di Indonesia tentunya akan lebih cermat dalam langkah-langkah mereka. "Dengan kondisi suku bunga yang tinggi, kami melihat bahwa perusahaan-perusahaan lebih berhati-hati dalam mengembangkan bisnis mereka. Mereka tidak menghentikan semua kegiatan, tetapi terlihat lebih selektif dalam ekspansi," ujarnya. Kenaikan suku bunga juga berimbas pada pasar modal, khususnya dalam segmen utang, karena menjadikannya lebih mahal. Akibatnya, perusahaan-perusahaan di Indonesia lebih selektif dalam memilih sumber pembiayaan, baik dari sektor perbankan, pasar modal, maupun alternatif lainnya. Gioshia berharap bahwa suku bunga dapat mengalami penurunan di akhir tahun ini, yang diharapkan dapat membawa dampak positif bagi perekonomian menjelang tahun 2025. Stabilitas menjadi salah satu harapan yang diungkapkan oleh Gioshia, yang menyatakan bahwa dengan adanya kondisi yang stabil, perusahaan akan lebih mudah dalam merencanakan langkah-langkah strategis dan memiliki keinginan lebih untuk melakukan ekspansi. Hingga saat ini, suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI), atau BI-Rate, berada di angka 6,25 persen setelah meningkat sebanyak 25 basis poin. ANTARA