SURABAYA –
**Borneonews - Surabaya**, Seorang pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), KH. Moensif Nahrowi, memberikan pernyataan tegas bahwa PMII seharusnya tidak bersikap independen terhadap Nahdlatul Ulama (NU). Dalam kesempatan pelantikan PMII Komisariat UIN Sunan Ampel, yang berlangsung di Hall Auditorium Surabaya pada Kamis malam lalu, beliau menyatakan bahwa independensi yang diusung PMII pada tahun 1991 sesungguhnya bersifat taktis. KH. Moensif menjelaskan bahwa PMII didirikan oleh sejumlah tokoh muda yang memiliki latar belakang Nahdlatul Ulama. Di antara pendiri tersebut terdapat nama-nama seperti M. Chalid Mawardi dan M. Said Budairy dari Jakarta, Hilman Badrudinsyah dari Bandung, dan lainnya. Mereka berkumpul di Taman Pendidikan Khodijah di Wonokromo, Surabaya, dan pada tanggal 17 April 1960, mendeklarasikan organisasi PMII sebagai wadah perjuangan mahasiswa NU. Dalam acara tersebut, yang dihadiri oleh sesepuh, alumni, dosen, pimpinan, serta kader PMII UINSA, KH. Moensif menekankan pentingnya PMII untuk beradaptasi dengan perubahan zaman dalam pola pengkaderan. Namun, beliau menegaskan bahwa hubungan antara PMII dan NU di setiap level kepengurusan tidak boleh berubah. Menurutnya, PMII tidak boleh lepas dari pengaruh dan ikatan dengan NU. Kiai Moensif mengingat kembali Kongres PMII di Murnajati, Malang, pada tahun 1991 yang menghasilkan keputusan bahwa PMII akan bersikap independen. Pada zaman tersebut, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, fokus utama adalah pada stabilitas politik. Akibatnya, segala upaya yang bertujuan untuk menjaga stabilitas dianggap sangat perlu, sementara kelompok yang bersikap kritis dapat dianggap sebagai oposisi. Dalam pandangannya, keputusan untuk bersikap independen adalah langkah strategis yang diambil secara temporer. Dalam hal-hal yang tidak terduga, seperti ancaman pembubaran NU oleh pemerintah, PMII tetap dapat mempertahankan keberadaannya secara legal. Sayangnya, menurut Kiai Moensif, semangat ini tetap ada hingga saat ini dan membuat PMII terlihat sangat independen, tanpa adanya korespondensi dengan NU. Meskipun beliau mengenakan jas almamater PMII, pada kesempatan tersebut, ia berbagi cerita mengenai masa lalu dan harapannya terhadap kepemimpinan PMII yang baru. Beliau berharap untuk dapat bertemu dengan Ketua Umum PB PMII yang baru terpilih, guna menyampaikan gagasan dan opini mengenai penguatan kembali hubungan antara PMII dan NU. Sebagai tambahan, pada Muktamar NU tahun 2015 yang diadakan di Jombang, telah diputuskan bahwa PMII merupakan badan otonom NU, dan selanjutnya PMII diberikan kesempatan untuk menentukan status tersebut lewat Kongres secara formal. Namun, hingga saat ini, Kongres PMII pasca tahun 2015 belum menghasilkan keputusan resmi terkait penerimaan tawaran untuk kembali berhubungan secara formal dengan NU. Acara pelantikan dan pengukuhan tersebut juga dihadiri oleh beberapa tokoh akademis dan pemimpin kampus, termasuk Prof. Dr. HM. Ridlwan Nasir, MA, Prof. Dr. KH. Ali Mashan Moesa, M.Si, serta sejumlah dosen dan pengurus lainnya. ANTARA