**Borneonews - Denpasar, Bali**, Bali, sebuah surga tropis yang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah, budaya yang kaya, dan pemandangan alam yang hijau, kini menghadapi tantangan besar seiring dengan popularitasnya sebagai destinasi wisata utama. Meskipun infrastruktur provinsi ini telah mengalami perkembangan yang signifikan selama bertahun-tahun, sistem transportasi di Bali masih sangat bergantung pada kendaraan pribadi.
Ketiadaan transportasi publik massal, ditambah dengan arus lalu lintas yang padat akibat aktivitas ekonomi dan pariwisata, membuat banyak orang lebih memilih menggunakan transportasi pribadi. Hal ini berkontribusi pada kemacetan yang terjadi di seluruh pulau. Kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan sehari-hari, terutama di kawasan-kawasan wisata yang ramai dikunjungi.
Namun, sebuah solusi yang telah lama ditunggu-tunggusistem kereta api cepatakhirnya mulai terwujud. Pemerintah provinsi telah mengambil langkah cepat tahun ini, berpindah dari studi kelayakan yang berkepanjangan menuju penunjukkan sebuah badan usaha milik daerah sebagai penggagas proyek ini. Badan ini kini aktif mencari investor untuk mendanai proyek yang baru saja dimulai dengan upacara peletakan batu pertama.
Pembangunan sistem subway urban Bali diperkirakan akan membawa pulau ini memasuki era baru dalam transportasi. Dengan adanya sistem kereta bawah tanah modern ini, diharapkan dapat memberikan solusi yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah lalu lintas yang semakin memburuk. PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ), sebuah perusahaan milik daerah, telah ditugaskan oleh pemerintah provinsi Bali untuk melaksanakan proyek ambisius ini, yang akan sepenuhnya dibiayai oleh investor swasta.
Pada bulan Mei 2024, pemerintah provinsi mulai mencari investor untuk proyek tersebut. Meskipun dihadapkan pada tantangan dalam mengamankan pendanaan swasta, PT Bumi Indah Prima (BIP) akhirnya terpilih sebagai investor. Upacara peletakan batu pertama dijadwalkan pada bulan September 2024, menandai dimulainya proses konstruksi secara resmi.
Menurut Ari Askhara, direktur utama PT SBDJ, proyek ini akan dilakukan dalam empat fase dan menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan berbagai lokasi di Bali, termasuk tempat-tempat populer seperti Seminyak, Sanur, dan Ubud. Mengingat geografi unik Bali, pembangunan infrastruktur kereta di atas tanah tidak memungkinkan. Selain itu, membangunnya langsung di permukaan juga menghadapi kendala terkait ketersediaan lahan. Oleh karena itu, keputusan diambil untuk membangun keempat jalur tersebut di bawah tanah.
Pengembangan ini tidak hanya mencakup pembangunan infrastruktur kereta, tetapi juga bertujuan untuk menciptakan ekosistem yang utuh, menambah nilai bagi ruang bawah tanah di Bali. Filosofi tradisional Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam, telah membimbing pendekatan pemerintah dalam penggunaan lahan. Dengan memanfaatkan lahan milik pemerintah yang ada untuk stasiun, proyek ini akan meminimalkan kebutuhan untuk akuisisi lahan tambahan, terutama mengingat tingginya biaya tanah di Bali dan potensi dampak lingkungan dari konstruksi di permukaan.
Setelah upacara peletakan batu pertama yang berlangsung di Badung pada hari Rabu (4 September 2024), konstruksi fasilitas kereta dimulai. Fase awal proyek akan fokus pada pembuatan jalur sepanjang 16 kilometer dan 13,5 kilometer. Fase pertama diharapkan memakan waktu lebih lama karena kondisi tanah yang berbatu.
PT Indotek telah ditunjuk sebagai kontraktor utama dan akan bekerja sama dengan China Railway Construction Corporation (CRCC) serta kontraktor lokal PT Sinar Bali Bina Karya. Kerja sama ini bertujuan untuk mengoptimalkan usaha serta bakat yang dimiliki masyarakat Bali. Para investor telah menyediakan dana sebesar US$10,8 miliar untuk dua fase awal dan US$9,2 miliar untuk dua fase selanjutnya dari proyek ini.
Proyek Bali Urban Subway saat ini berada pada fase awal, dengan fokus pada konstruksi stasiun dan kantor seluas 300x50 meter di Kuta Central Parking. Sepuluh mesin bor terowongan (*tunnel boring machines*, TBM) direncanakan akan dikerahkan pada bulan April 2025 untuk mengerjakan bagian bawah tanah yang akan berlangsung 30 meter di bawah permukaan tanah.
Untuk menghindari gangguan kepada masyarakat, pihak berwenang akan berkolaborasi dengan perusahaan air milik negara PDAM untuk memindahkan pipa air dan mendorong masyarakat untuk menghentikan penggunaan air tanah. Sebuah studi kelayakan yang dilakukan oleh tim asal Korea Selatan telah mengonfirmasi keamanan dan ketahanan dari rencana pembangunan ini. Kereta bawah tanah ini, yang akan dibangun dua kali lebih dalam daripada batas regulasi, dijamin tidak akan mempengaruhi pemukiman di atasnya.
Dengan persiapan dan kesepakatan yang matang antara pemerintah Bali dan pemerintah pusat, inisiator proyek ini memperkirakan fase pertama dari Bali Urban Subway akan selesai pada tahun 2028 dan segera dioperasikan. Fase berikutnya diharapkan dapat rampung pada tahun 2031. Sistem transportasi terintegrasi ini akan menyediakan sistem jalur ganda dengan enam gerbong, masing-masing mampu menampung 40 penumpang. Kereta akan dioperasikan dengan jadwal 10 menit sekali selama 24 jam.
Meskipun harga tiket untuk sistem kereta baru ini belum final, diperkirakan harganya akan terjangkau bagi wisatawan, terutama karena rutenya akan melayani kawasan-kawasan yang banyak dikunjungi. Para wisatawan mungkin membutuhkan kartu kredit untuk membeli tiket dan diperkirakan akan membayar antara US$35 hingga US$40 untuk tiket mingguan. Penduduk lokal yang memiliki kartu identitas Bali mungkin memenuhi syarat untuk perjalanan gratis.
Investasi Bali dalam sistem subway modern ini menandai langkah signifikan dalam peningkatan infrastruktur pariwisata pulau tersebut. Dengan menyediakan moda transportasi yang andal, efisien, dan nyaman, Bali Urban Subway akan memberikan berbagai manfaat baik bagi wisatawan maupun penduduk setempat. Proyek ini akan membantu mengurangi kemacetan lalu lintas, memperbaiki waktu perjalanan, dan mengurangi stres bagi pengunjung. Selain itu, sistem ini juga akan menghubungkan berbagai tujuan wisata, memudahkan pengunjung untuk menjelajahi berbagai bagian pulau tanpa bergantung pada transportasi pribadi.
Tidak hanya itu, proyek ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon dan promosi praktik pariwisata yang berkelanjutan, sembari memberikan cara yang lebih nyaman dan efisien bagi wisatawan untuk berkeliling.
ANTARA
Proyek Bali Urban Subway, Solusi Transportasi Modern untuk Wisatawan
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Imam Besar: Serangan Berulang ke Mekkah Bongkar Niat Kriminal Houthi
Kemenpar-BPOLBF Gandeng Agen Wisata Tiongkok Perluas Pasar Labuan Bajo
Mendagri Prancis: Ribuan Orang Ditahan saat Demonstrasi Lanjutan
Dua Tunggal Putri Indonesia Gagal ke Final Indonesia Masters
Menperin Yakin Produk UMKM Ramah Lingkungan RI Tembus Pasar Global
Yusril: Kebijakan Publik Harus Berorientasi Kepentingan Masyarakat
Komentar (0)
Memuat komentar…







