JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kepala Riset dan Strategi JP Morgan Indonesia, Henry Wibowo, menyampaikan pandangan positif mengenai prospek perekonomian serta pasar saham Indonesia. Dalam acara JP Morgan Media Briefing yang berlangsung di The Energy Building, Jakarta, pada Kamis lalu, Henry menegaskan bahwa pihaknya memberikan penilaian *positive overweight* terhadap Indonesia. Menurut Henry, terdapat beberapa alasan yang mendasari penilaian positif ini. Pertama, Indonesia diperkirakan akan merasakan *positive impact* dari pemangkasan suku bunga yang dilakukan oleh The Federal Reserve (The Fed). JP Morgan memprediksi bahwa suku bunga di Amerika Serikat akan mengalami penurunan total sebesar 125 *basis points* (bps) sepanjang tahun ini, dengan rincian pengurangan sebesar 50 bps pada bulan September, 50 bps di bulan November, dan 25 bps pada bulan Desember. Sementara itu, untuk Indonesia, diharapkan Bank Indonesia akan melakukan pemangkasan suku bunga hingga mencapai 50 bps, dengan rincian pemangkasan 25 bps pada bulan ini dan 25 bps lainnya di bulan November. Henry menyatakan, "Setelah *monetary easing* terjadi, di mana suku bunga mulai turun, likuiditas diharapkan akan membaik. Ini akan memungkinkan *fund flow* dari pasar negara berkembang beralih ke pasar-pasar *emerging*, termasuk Indonesia yang akan mendapatkan manfaat." Selain itu, reformasi struktural yang terus berlanjut di Indonesia, seperti yang disebutkan dalam Visi Indonesia Emas 2045, juga menjadi faktor kedua yang mendasari penilaian positif JP Morgan. Salah satu langkah reformasi yang dianggap penting adalah transformasi Indonesia menjadi sebuah *manufacturing hub*, bukan sekadar sebagai *commodity exporter*. Faktor ketiga yang menjadi perhatian adalah pemulihan *earning growth* dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa, dengan proyeksi pertumbuhan laba bersih perusahaan yang sebelumnya negatif 6 persen pada semester pertama 2024, berpotensi meningkat menjadi positif 5 persen pada semester kedua 2024. Diharapkan, pada tahun ini, pertumbuhan berada dalam kisaran 5-9 persen. Penguatan nilai tukar rupiah telah diidentifikasi sebagai salah satu elemen yang mendukung pemulihan *earning growth*. Setelah beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah bergerak dari Rp16.200 per dolar AS ke Rp15.500 per dolar AS. Henry menjelaskan, "Rupiah kita sangat sensitif terhadap pergerakan *corporate earnings*. Banyak perusahaan yang masih bergantung pada pengadaan bahan baku impor. Seiring dengan melemahnya rupiah, biasanya *margin* mereka akan tergerus. Selain itu, perusahaan-perusahaan yang memiliki utang dalam dolar juga akan merasakan dampak negatif dari fluktuasi nilai tukar." Henry menambahkan, "Melihat kembali pada beberapa bulan terakhir, rupiah telah menguat sekitar 5-6 persen. Dari Rp16.200 per dolar AS, kini telah turun ke Rp15.500. Ini sangat berdampak positif bagi emiten-emiten kita, sehingga diharapkan pertumbuhan laba perusahaan bisa kembali pulih." ANTARA