JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, JP Morgan Indonesia menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap sejumlah sektor di pasar Indonesia, khususnya sektor perbankan, *consumer*, dan properti. Menurut Henry Wibowo, selaku Kepala Riset dan Strategi JP Morgan Indonesia, sektor-sektor tersebut dianggap memiliki potensi yang menjanjikan. Henry menyatakan bahwa perbankan, *consumer staples*—yang mencakup produksi barang-barang kebutuhan sehari-hari—*consumer discretionary*, dan sektor properti merupakan area yang menarik untuk dijelajahi lebih lanjut. Dalam acara JP Morgan Media Briefing yang berlangsung di The Energy Building, Jakarta, dia menekankan bahwa sektor perbankan berpotensi tinggi untuk mendapatkan manfaat dari aliran dana yang terus mengalir ke Indonesia, mengingat kontribusinya yang signifikan sebesar 60 persen dalam Indeks Saham Gabungan Indonesia (IHSG). Keduanya, sektor *consumer staples* dan *discretionary*, menarik perhatian JP Morgan Indonesia sejalan dengan proyeksi bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita di Indonesia akan melampaui 5.000 dolar AS pada akhir tahun ini. Henry mengungkapkan bahwa angka ini merupakan titik strategis, yang akan memicu *new wave of discretionary spending* di kalangan konsumen. Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa ketika PDB per kapita Indonesia mencapai ambang 5.000 dolar AS, hal ini akan mirip dengan kondisi yang terjadi di China pada tahun 2011, ketika negara tersebut pertama kali berhasil melewati angka tersebut dan mengalami pertumbuhan yang berkesinambungan hingga tahun 2020. “Oleh karena itu, saya meyakini bahwa dekade berikutnya akan sangat menarik bagi Indonesia, karena kita akan memasuki fase di mana PDB per kapita kita akan membukukan angka di atas 5.000 dolar AS,” tambah Henry. Selain itu, sektor properti juga tidak luput dari perhatian JP Morgan Indonesia. Henry mencatat bahwa harga properti di daerah Jabodetabek terpantau relatif stagnan. Dia memberi contoh harga properti di Serpong, Tangerang Selatan, yang mengalami lonjakan harga 2-3 kali lipat antara tahun 2010 hingga 2015, tetapi sejak saat itu, harga tersebut mengalami stagnasi hingga saat ini. Henry menilai bahwa ada potensi *catalyst for reversal* dalam sektor properti. Penurunan suku bunga dapat membantu meningkatkan *affordability* dari pinjaman *mortgage*, yang pada gilirannya dapat merangsang pasar. Dia juga mencatat bahwa proyek-proyek penjualan properti mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan, dan minat untuk berinvestasi di sektor ini mulai pulih, terutama mengingat valuasi yang dianggap masih cukup murah. Dengan demikian, ada harapan yang optimis untuk prospek investasi di sektor properti dalam waktu dekat. ANTARA