JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, PT Pertamina (Persero) sedang mengembangkan tiga sumber bahan baku yang berasal dari sorgum, nipah, dan tandan buah kosong kelapa sawit (*palm oil empty fruit bunch*) untuk dijadikan sebagai bahan baku bioetanol. Inisiatif ini diambil dalam rangka mendukung transisi energi yang lebih berkelanjutan. Oki Muraza, Senior Vice President Teknologi Inovasi PT Pertamina, menyatakan bahwa potensi sorgum sebagai bahan baku bioetanol cukup besar, mengingat tanaman tersebut tumbuh subur di berbagai wilayah Indonesia. Ia menjelaskan bahwa batang sorgum dapat diperas untuk mendapatkan bioetanol, sementara daun tanaman tersebut bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, berkontribusi pada program peningkatan gizi yang lebih baik. Lebih lanjut, Oki juga menekankan bahwa penggunaan bioetanol dari sorgum dapat menjadi strategi substitusi untuk pengimporan gandum yang saat ini mencapai rata-rata 9,6 juta ton per tahun. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produksi serta diversifikasi produk pangan dalam negeri. Selain sorgum, PT Pertamina juga meneliti potensi nipah sebagai bahan baku bioetanol dengan memanfaatkan getah dari pohon mangrove. Mengingat keberagaman mangrove di Indonesia yang terdiri dari 48 jenis, Oki menyebutkan bahwa ini merupakan langkah menarik untuk memberdayakan ekosistem pesisir. Pohon mangrove tidak hanya dapat berfungsi sebagai penahan abrasi, tetapi juga getahnya dapat diolah menjadi bahan baku bioetanol. Dalam konteks penggunaan tandan buah kosong kelapa sawit, proses pembuatan bioetanol dilakukan melalui teknik pengolahan biomassa. Langkah ini mencakup pemisahan lignin, penghidrolisian selulosa, dan dilanjutkan dengan fermentasi glukosa, yang akan menghasilkan bioetanol berkualitas tinggi. Oki mengungkapkan bahwa pengembangan ketiga jenis bahan baku ini mencakup rencana yang terstruktur dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Meskipun fase ini saling terkait, penting untuk memastikan bahwa semua langkah yang diambil tetap ekonomis. Berdasarkan analisis yang dilakukan, sorgum dianggap sebagai pilihan paling ekonomis, terutama jika didukung oleh kebijakan pemerintah. Langkah ini tidak hanya berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap impor produk pangan, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan impor energi. Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen nyata dalam menciptakan Net Zero Emissions (NZE), seperti yang termaktub dalam Perjanjian Paris. Melalui Enhanced-Nationally Determined Contribution (E-NDC), Indonesia menargetkan pengurangan emisi sebanyak 912 juta ton pada tahun 2030. Kegiatan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2024 ini berlangsung sebagai wadah resmi dari pemerintah Indonesia untuk para pemimpin global dari berbagai sektor dan negara. Forum ini bertujuan untuk berbagi pemikiran, ilmu pengetahuan, serta mencari solusi dan praktik terbaik dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Acara yang digelar selama dua hari ini mencakup berbagai agenda, antara lain sesi utama dengan pembicara kunci, diskusi pleno, sesi tematik, dialog tingkat tinggi, penandatanganan nota kesepahaman (MoU), pameran, dan acara gala dinner. ANTARA