BANGKA BELITUNG –
**Borneonews - Pangkalpinang** Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi mengungkapkan bahwa kegiatan penambangan bijih timah ilegal yang semakin meluas di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah memicu konflik antara manusia dan buaya. Fenomena ini menjadi perhatian serius mengingat dampak yang ditimbulkan terhadap kedua belah pihak. Manager PPS Alobi, Endy M Yusuf, menjelaskan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, insiden konflik antara manusia dan buaya mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh terganggunya habitat buaya yang merupakan akibat dari aktivitas penambangan timah ilegal yang masif. Endy menyatakan bahwa sejumlah buaya yang berkonflik dengan warga tengah menjalani rehabilitasi kerjasama dengan PT Timah Tbk. Proses ini dilakukan di Kampung Reklamasi PT Timah di Desa Air Jangkang, Bangka, untuk melindungi satwa tersebut dari ancaman kematian. Endy menambahkan bahwa konflik ini bukan hanya terjadi di tingkatan interaksi, melainkan juga telah mengakibatkan fatalitas bagi beberapa warga. Tragisnya, buaya yang ditangkap oleh masyarakat pun sering kali tidak selamat, terjerat alat pancing dan berbagai ancaman lainnya. Menurut pengamatan Endy, lokasi habitat buaya yang semula berada di pinggiran sungai kini banyak yang terjual atau ditambang oleh pihak-pihak yang melakukan penambangan secara ilegal. Situasi ini memaksa buaya mencari tempat baru atau mendekati sungai yang sering digunakan oleh masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari. Lebih lanjut, Endy mengungkapkan bahwa penambangan ilegal tidak hanya berakibat pada pencemaran sungai, tetapi juga menyebabkan kerusakan ekosistem yang jelas mempengaruhi keseimbangan ekologi. Dia menegaskan bahwa perilaku buaya yang menyerang bukan hanya dilatarbelakangi oleh faktor kelaparan, tetapi juga sebagai bentuk pembelaan diri ketika habitat mereka terancam. Endy menghimbau agar semua pihak dapat berkolaborasi dalam melindungi keanekaragaman satwa liar, yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaan mereka sangat vital untuk kelestarian lingkungan. Menurutnya, pengelolaan penambangan timah seharusnya dilakukan secara bertanggung jawab. Kegiatan ilegal hanya menciptakan ketidakpastian dan mengabaikan kerusakan lingkungan yang sudah terjadi. Selama ini, PPS Alobi bersama PT Timah telah berkomitmen untuk melakukan rehabilitasi bagi satwa liar yang terkena dampak. Selain itu, mereka juga melaksanakan proses pelepasliaran untuk mengembalikan satwa ke habitat aslinya. Endy berharap agar perusahaan tambang lainnya bisa mengikuti langkah yang diambil oleh PT Timah, sehingga penambangan timah dapat dilakukan secara baik dan bertanggung jawab. Dia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan tidak merusak ekosistem, serta melindungi satwa yang ada. ANTARA