KUPANG –
**Borneonews - Kota Kupang**, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa terdapat 225 kecamatan dari total 309 kecamatan yang tersebar di 21 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kini berada dalam kategori siaga kekeringan. Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang, Rahmatulloh Adji, menyatakan bahwa di samping itu, ada 28 kecamatan yang teridentifikasi dalam kategori awas kekeringan, sedangkan 20 kecamatan lainnya diklasifikasikan sebagai waspada kekeringan. Kondisi ini menunjukkan tingginya potensi kekeringan yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat. Kabupaten dengan jumlah kecamatan yang paling banyak memasuki status siaga kekeringan adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yang memiliki 28 kecamatan. Kemudian diikuti oleh Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Utara yang masing-masing memiliki 21 kecamatan, Kabupaten Flores Timur dengan 20 kecamatan, serta Kabupaten Sikka yang mencatatkan 15 kecamatan dalam kondisi serupa. Di sisi lain, terdapat kecamatan dengan status siaga kekeringan paling sedikit. Misalnya, Kabupaten Manggarai Timur hanya memiliki empat kecamatan yang teridentifikasi, yaitu Kecamatan Elar, Elar Selatan, dan Lamba Leda. Selain itu, Kabupaten Nagekeo dan Sumba Tengah masing-masing memiliki lima kecamatan, sedangkan Manggarai Barat dan Sumba Barat memiliki enam kecamatan yang masuk dalam kategori ini. Rahmatulloh menambahkan bahwa hampir semua kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan mengalami dampak kekeringan. Dari 32 kecamatan di wilayah tersebut, hanya satu kecamatan yang tidak terpengaruh oleh kondisi kekeringan. Lebih lanjut, khusus untuk Kabupaten Flores Timur di Pulau Flores serta Kabupaten Sabu Raijua, seluruh kecamatan di dua daerah tersebut masuk dalam kategori siaga dan awas kekeringan. Masyarakat di wilayah-wilayah ini harus lebih waspada terhadap dampak yang kemungkinan muncul akibat kekeringan. Dalam pengamatan terkait kondisi suhu muka laut, Rahmatulloh menjelaskan bahwa anomali suhu di perairan Nusa Tenggara Timur umumnya menunjukkan kecenderungan netral hingga lebih hangat dari kondisi klimatologis. Diperkirakan, suhu muka laut akan tetap hangat dengan anomali yang berkisar antara +0.5 hingga +1.0 derajat Celsius selama periode September 2024 hingga Februari 2025. Dengan situasi ini, Kepala BMKG menggugah masyarakat untuk tetap waspada, terutama terhadap risiko kebakaran hutan dan angin kencang yang dapat mengancam keselamatan dan keberlangsungan hidup di daerah yang terdampak kekeringan. ANTARA