JAKARTA –
**Borneonews - [Nama Lokasi/Wilayah/Tempat/Kota]**, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah resmi menunjuk Michel Barnier sebagai Perdana Menteri yang baru menggantikan Gabriel Attal. Barnier merupakan mantan negosiator Uni Eropa dalam proses *Brexit*, yaitu keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Dalam pengumuman yang dibuat oleh Istana Elysee pada Kamis (5/9), disampaikan bahwa Barnier diberikan mandat untuk membentuk pemerintahan yang bersatu dan berfokus pada pelayanan kepada negara dan rakyat Prancis. Barnier terkenal sebagai politisi dengan ideologi kanan-tengah, dan ia juga pernah menjabat sebagai komisioner Uni Eropa serta Menteri Luar Negeri Prancis. Barnier memiliki pengalaman yang relevan, di mana ia sebelumnya ditunjuk sebagai penanggung jawab hubungan Uni Eropa dengan Inggris dalam rangka penyelesaian proses *Brexit*. Dalam acara serah terima jabatannya, ia menegaskan komitmennya untuk menghadapi tantangan serta mendengarkan suara dan keluhan rakyat dengan penuh perhatian. Presiden Macron juga menyampaikan penghargaan kepada Gabriel Attal, yang telah menjalankan tugasnya selama delapan bulan terakhir. Macron mengungkapkan rasa terima kasihnya melalui akun media sosial X, menilai Attal telah melakukan banyak hal untuk memajukan negara dan mempertahankan pengaruh Prancis di tengah situasi yang kompleks. Namun, penunjukan Barnier tidak mendapat respons positif dari para politisi sayap kiri. Mereka menegaskan bahwa kepala pemerintahan yang ditunjuk seharusnya merefleksikan kehendak rakyat. Aliansi sayap kiri, Front Populer Baru (NFP), sebelumnya meraih jumlah kursi terbanyak dalam pemilihan legislatif Prancis yang dihelat pada 7 Juli lalu. Salah satu partai terkemuka di sayap kiri Prancis, Partai Sosialis, bahkan menyatakan bahwa Barnier tidak memiliki legitimasi politik untuk memimpin pemerintahan. Melalui pernyataan di media sosial X, Partai Sosialis menegaskan bahwa mereka akan menolak penunjukan Michel Barnier serta pemerintahan yang akan terbentuk di bawah kepemimpinannya. ANTARA