**Borneonews - Jakarta** Perayaan Chuseok merupakan salah satu hari raya tradisional yang sangat khas di Korea. Hari yang sering diidentikkan dengan nuansa berkumpulnya keluarga ini dirayakan dengan semangat kemakmuran dan ucapan syukur, yang sering kali diwujudkan dalam beragam hidangan lezat khas Negeri Ginseng.
Dalam upaya membawa semarak Chuseok ke Jakarta, Lotte Mart di Gandaria City mengadakan acara bertajuk *Giant Bibimbap Show*. Acara ini dirancang untuk menghadirkan suasana perayaan kepada masyarakat di Ibu Kota, khususnya bagi mereka yang merindukan nuansa tradisi Korea. Bibimbap, hidangan tradisional Korea yang terdiri atas nasi, sayuran, dan daging, disajikan dalam ukuran raksasa. Menu ini bukan hanya untuk dinikmati di restoran, tetapi juga dibagikan secara gratis kepada pengunjung yang hadir pada hari Kamis (5/9).
Kim Tae Hoon, Direktur Utama LOTTE Mart Indonesia, menjelaskan bahwa bibimbap dipilih sebagai simbol dari keharmonisan dan kerukunan. Hidangan ini merepresentasikan gabungan berbagai bahan yang disajikan secara bersamaan, selaras dengan nilai-nilai kerukunan yang dijunjung tinggi dalam budaya Indonesia. Dalam acara *Giant Bibimbap Show*, pengunjung berkesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan simbolis berupa mencampur bibimbap bersama, menandakan rasa kebersamaan khas Korea.
Kim menyatakan bahwa acara ini merupakan cara yang baik untuk merayakan Chuseok di Indonesia, di mana semua orang dapat menikmati hidangan yang melambangkan persatuan. Selain acara bibimbap, terdapat juga berbagai produk asli Korea lainnya yang dapat dinikmati, termasuk Pir Premium Chuseok dari Korea, Songpyeon (kue beras khas Chuseok), Kimchi Jeon (pancake kimchi), serta barbeque ala Korea seperti beef bulgogi dan samgyeopsal. Festival ini juga menampilkan *street food* dan camilan populer dari Korea yang diminati oleh masyarakat Indonesia.
Tradisi Chuseok juga meliputi hidangan tertentu seperti songpyeon dan galbi, yang biasanya dinikmati bersama keluarga. Kim Tae Hoon berharap bisa menghadirkan pengalaman tradisi ini di Jakarta, agar warga Korea di kota tersebut dapat merayakan Chuseok dengan hidangan khas. Para pelanggan Indonesia pun diharapkan dapat mencoba memasak hidangan serupa di rumah mereka.
Acara Chuseok ini juga memperkenalkan Yorieda Kitchen, yang merupakan zona kuliner di Lotte Mart dengan tujuan memberikan pengalaman otentik makanan Korea kepada para pengunjung. Sejak dibuka pada bulan Januari, Yorieda Kitchen telah berhasil menarik lebih dari 300.000 pengunjung dengan menu-menu favorit seperti kimbap dan dakgangjeong.
Banyak pengunjung merasa tersanjung dengan banyaknya pilihan makanan khas Korea yang ditawarkan di Yorieda Kitchen. Mereka dapat memilih makanan dari pembuka hingga makanan penutup yang sarat dengan cita rasa Korea. Salah seorang pengunjung, Anita, menyatakan kegembiraannya, "Seru banget ya, bahkan tadi saya ikut mencampur bibimbap raksasa yang dimasak tadi. Di sini juga ada berbagai sate, makanan berat seperti kimbap, hingga jajanan yang viral di Korea."
Festival Chuseok di Lotte Mart tidak hanya berperan sebagai ajang promosi kuliner Korea, namun juga berkontribusi pada penguatan hubungan budaya antara Korea dan Indonesia. Dengan semangat yang tinggi dari pengunjung, Lotte Mart berharap dapat terus memperluas acara budaya semacam ini di masa yang akan datang.
Bagi masyarakat yang ingin merasakan kenikmatan kuliner Korea dan ikut merayakan Chuseok, festival ini masih berlangsung hingga akhir bulan, menawarkan beragam produk serta hidangan yang bisa dinikmati oleh semua kalangan.
Chuseok, sebagai salah satu festival terbesar di Korea, tak hanya momen untuk berkumpul dengan keluarga, tetapi juga menjadi simbol dari panen raya dan persiapan untuk menghadapi musim dingin. Menurut Afriadi, seorang pengamat budaya dan dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Chuseok jatuh pada pertengahan musim gugur ketika para petani bersiap untuk panen sebelum musim dingin datang.
Chuseok juga menjadi puncak perayaan dari hasil pertanian yang dicapai selama musim semi dan musim panas. Ini menjadi waktu bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi musim dingin yang panjang. Selain itu, di masa ini para petani mulai mengolah hasil panen mereka, seperti mengeringkan biji-bijian, membuat kimchi, serta menyiapkan berbagai hidangan dari sumber daya alam yang ada.
Meskipun zaman telah banyak berubah, Chuseok tetap mempertahankan esensinya sebagai sebuah perayaan yang berfokus pada keluarga dan tradisi pertanian. Dahulu, keluarga-keluarga besar yang tinggal berdekatan akan bersama-sama menyiapkan kue dan hidangan untuk dihidangkan. Namun saat ini, dengan urbanisasi yang semakin besar, Chuseok menjadi saat yang sangat berarti untuk perjalanan pulang ke kampung halaman guna berkumpul bersama orang terkasih.
Perayaan ini juga mengandung berbagai elemen spiritual. Masyarakat Korea melaksanakan persembahan kepada leluhur sebagai bentuk penghormatan, yang menambah dimensi keagamaan serta tradisi dalam perayaan tersebut. Menariknya, Afriadi mengaitkan Chuseok dengan festival serupa di banyak budaya lain, contohnya *Mooncake Festival* atau *Mid-Autumn Festival* yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa, termasuk di Indonesia.
Kedua festival ini diperingati pada waktu yang sama dalam penanggalan Imlek, tepatnya pada bulan purnama ke-15 di bulan kedelapan. Di Indonesia, tradisi panen juga dirayakan di berbagai daerah, seperti pada Seren Taun yang dirayakan oleh masyarakat adat Ciptagelar. Meskipun terdapat perbedaan dalam bentuk dan ritual, inti dari perayaan tersebut tetap sama, yakni ucapan syukur atas hasil panen dan persiapan untuk masa yang akan datang.
Chuseok, dengan seluruh tradisi dan maknanya, tidak hanya menjadi momen penting bagi masyarakat Korea, melainkan juga mencerminkan betapa pentingnya hubungan keluarga dan budaya agraris yang ada dalam berbagai tradisi di seluruh dunia.
Lebih jauh, Dr. Rostineu, seorang pengamat budaya dan dosen di Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea di FIB Universitas Indonesia, menyatakan bahwa tidak terdapat penamaan yang setara dengan Chuseok dalam budaya Indonesia. Menurutnya, "Selamatan atau syukuran di Indonesia dapat dilakukan dalam konteks keluarga, namun sering kali juga dilakukan secara lebih luas oleh komunitas desa. Chuseok, yang saat ini masih dirayakan dalam lingkup keluarga, lebih menekankan pada pelestarian kearifan budaya tradisional Korea yang muncul sebagai perayaan syukur dari masyarakat petani dan penghormatan kepada leluhur."
Perbedaan mendasar ini menunjukkan makna yang lebih dalam dari perayaan Chuseok yang mencerminkan budaya Korea, sementara perayaan serupa di Indonesia sangat bervariasi, tergantung pada tradisi dan kebudayaan lokal dari masing-masing suku.
ANTARA
Merayakan Chuseok, Tradisi Korea yang Mempererat Keluarga
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Realisasi KUR Tembus Rp260 Triliun hingga Oktober 2026
Pertamina Larang Pembelian Pertalite Berulang untuk Dijual Kembali
Aston Martin Gunakan Livery Spesial di GP Amerika Serikat
BRI Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun di Tengah Gejolak Pasar Modal
Bank Mandiri Beri Nilai Tambah ke Pemegang Saham Lewat Dividen-Buyback
Klinik Bersalin di Palangka Raya Bisa Terbitkan KIA hingga Perubahan KK untuk Anak Baru Lahir
Komentar (0)
Memuat komentar…







