JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan bahwa Aliansi Keuangan Campuran Global, atau *Global Blended Finance Alliance* (GBFA), yang diinisiasi oleh Indonesia, berperan penting dalam upaya global menghadapi tantangan perubahan iklim. Pernyataan ini disampaikannya dalam sesi tematik Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2024 yang berlangsung di Jakarta pada hari Jumat. Luhut menjelaskan bahwa aliansi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mendesak dalam pelaksanaan transisi energi, langkah-langkah aksi iklim, dan pencapaian target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau *Sustainable Development Goals* (SDGs). Ia menegaskan keyakinannya bahwa GBFA, yang digagas Pemerintah Indonesia bersama dengan delapan calon anggota pendiri lainnya, akan berfungsi sebagai alat strategis untuk mengatasi kekurangan pembiayaan yang sering menghambat pelaksanaan tindakan iklim dan target-target SDGs. Aliansi finansial tersebut memiliki visi untuk menjadi organisasi internasional yang mendukung negara-negara berkembang dalam mengembangkan platform pendanaan yang relevan dengan SDGs dan aksi iklim. Penataan dan pengorganisasian ini diharapkan mampu menarik minat calon investor untuk berkontribusi dalam proyek-proyek yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan. Luhut juga menerangkan bahwa pembentukan GBFA sejalan dengan optimisme yang dipancarkan oleh deklarasi Kerangka Kerja Keuangan Iklim Global, yang disepakati dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP-28 di Dubai pada tahun lalu. Deklarasi tersebut menggarisbawahi pentingnya membuka jalur modal swasta untuk meningkatkan upaya tindakan iklim. Sementara itu, Luhut mengungkapkan rencana untuk mempresentasikan inisiatif ini dalam COP 29 yang akan diadakan di Baku, di mana akan ada fokus untuk mengembangkan proyek-proyek konkret serta menarik anggota baru yang potensial untuk bergabung dalam aliansi ini. Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Pendanaan Iklim, Mari Elka Pangestu, menekankan pentingnya skema pendanaan campuran atau *blended finance* dalam membantu negara-negara berkembang melakukan transisi energi dan mencapai target nol emisi karbon yang telah ditetapkan secara global. Mari menjelaskan bahwa pendekatan finansial yang memanfaatkan berbagai sumber tersebut bermanfaat untuk mengejar kesenjangan pembiayaan, yang diperkirakan mencapai antara 1 hingga 3 triliun dolar AS. Saat ini, Mari mencatat bahwa dari janji yang diberikan oleh negara-negara maju pada tahun 2015 hanya sekitar 100 miliar dolar AS yang tepenuhi, dan hal itu baru dapat diakui pada tahun 2022. ANTARA