BORNEONEWS, Sampit - Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur saat ini sedang mengembangkan program desa bebas buang air besar (BAB) sembarangan, atau juga dikenal dengan istilah Open Defecation Free (ODF). Penerapan program tersebut mulai dilakukan di salah satu desa di kecamatan tersebut yakni Desa Parebok.

Camat Teluk Sampit, Samsurijal mengungkapkan, program tersebut amatlah penting diterapkan di wilayah itu. Apalagi wilayah Teluk Sampit kerap dilanda krisis air bersih apabila musim kemarau telah tiba. Tak sedikit warga yang terserang penyakit diare apabila musim kemarau sudah melanda wilayah itu.

“Kalau sudah kemarau stok air hujan warga menipis kemudian air yang ada pun rasanya payau karena terkontaminasi air asin. Ditambah lagi air sungai yang tercemar karena pembuangan tinja menyebabkan banyak warga yang terserang penyakit diare,” kata Samsurijal, Rabu (20/7/2016).

Desa ODF merupakan desa bebas dari BAB sembarangan, sehingga menjadi desa yang warganya berperilaku hidup bersih serta memberikan motivasi terhadap desa yang lain.

“Diharapkan dengan penerapan program tersebut maka lingkungan pun menjadi lebih sehat, juga derajat kesehatan masyarakat turut meningkat. Kemudian kita juga bisa menekan angka kejadian kasus diare apabila musim kemarau datang,” katanya.

Saat ini untuk mengoptimalkan program itu, pihaknya mengaku terus proaktif mengerakkan peran petugas kesehatan yang ada untuk terus mengajak warga berpartisipasi. Juga menumbuhkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di kehidupan sehari-hari.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur Faisal Novendra Cahyanto menambahkan, kebiasaan BAB sembarangan memicu mudahnya penyakit serius, seperti penyakit kolera, disentri, thypus juga diare. Tak heran, kata Faisal, pada musim kemarau, jumlah kasus diare di Kotim selalu terjadi peningkatan, karena pemicunya warga yang mengkonsumsi air sungai yang sudah tercemar tinja manusia.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan sejumlah warga masih melakukan BAB sembarangan di antaranya seperti faktor pendidikan serta kurangnya pemahaman tentang perilaku hidup bersih dan juga faktor kebiasaan.

“Ada juga warga di rumah sudah memiliki jamban, namun karena faktor kebiasaan tetap BAB di sungai karena merasa tidak puas,” ungkapnya.

Untuk itu pihaknya terus mensosialisasikan agar warga berhenti BAB sembarangan, untuk lanting-lanting yang ada di pinggir sungai ia menyarankan agar dapat digunakan untuk aktivitas lain. (RAFIUDIN/m)