BANJARMASIN –
**Borneonews - Banjarbaru**, Provinsi Kalimantan Selatan telah mengimplementasikan 15 program yang bertujuan untuk mengatasi dampak perubahan iklim serta pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang mempengaruhi sektor pertanian dan hortikultura. Program-program ini dikelola oleh Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) yang berada di bawah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Kepala BPTPH Provinsi Kalimantan Selatan, Lestari Fatria Wahyuni, menyampaikan bahwa belasan program layanan tersebut termasuk dalam upaya untuk memperkuat laboratorium yang berfokus pada pengamatan hama dan penyakit. Laboratorium ini tersebar di tiga kabupaten di wilayah Kalimantan Selatan. Berbagai layanan yang tersedia dalam program ini mencakup laboratorium pengujian pestisida, gerakan pengendalian tanaman, serta bimbingan teknis yang ditujukan kepada kelompok tani. Selain itu, juga terdapat pelayanan terkait rekomendasi produk agen hayati dan pestisida nabati, serta pengamatan yang diikuti penerbitan rekomendasi terkait dengan OPT dan bencana alam. Layanan lainnya melibatkan pemetaan daerah yang terpengaruh oleh OPT dan bencana serta peramalan yang berkaitan dengan serangan OPT. Brigade Proteksi Tanaman juga berperan aktif dalam penanganan pengendalian, dan program ini termasuk pengembangan agribisnis hortikultura dan jenis pestisida yang berbasis bahan alami. Untuk menjamin efektivitas agen pengendali hayati, layanan uji kualitas juga tersedia guna memastikan produk yang digunakan aman bagi lingkungan. Kehadiran tiga Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) yang terletak di Sungai Tabuk, Sungai Raya, dan Mudalang memungkinkan jangkauan pelayanan yang lebih luas untuk daerah sekitar Banjarbaru, Banjarmasin, dan kabupaten lainnya seperti Banjar dan Tanah Laut. Partisipasi aktif BPTPH dalam pengembangan agen hayati sangat penting, terutama dengan penggunaan bahan yang ramah lingkungan sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada bahan pengendali kimiawi. Hal ini diharapkan dapat turut menjaga keseimbangan ekosistem serta meningkatkan keberlangsungan pertanian yang berkelanjutan. Dalam konteks tantangan perubahan iklim yang semakin nyata, BPTPH Kalsel juga melaksanakan Gerakan Penanganan sebagai respons terhadap situasi kebanjiran dan kekeringan. Lestari berharap program-program yang dijalankan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan para petani serta petugas terkait dalam menerapkan *Integrated Pest Management* (PHT). Harapan lain adalah mendorong kemandirian petani dalam mengendalikan OPT serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengendalian yang diterapkan. Dengan demikian, diharapkan dapat meminimalkan penggunaan pestisida kimia dan mengurangi dampak pencemaran terhadap lingkungan. "Dalam jangka panjang, kami ingin menciptakan masyarakat tani di Kalsel yang mampu menerapkan prinsip pengendalian hama terpadu, sehingga pertanian padi dan hortikultura di wilayah ini dapat berkembang dengan baik dan berwawasan lingkungan," tegas Lestari. ANTARA