**Borneonews - Rangkasbitung**, Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk menghindari kontak dengan hewan pengerat dalam rangka mencegah penyebaran virus cacar monyet, atau dikenal sebagai *Mpox*. Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Harian Kepala Dinas Kesehatan, Budi Mulyanto, pada Jumat di Rangkasbitung.
Budi menjelaskan pentingnya menjauhi hewan-hewan tertentu yang berpotensi menjadi penular, seperti tupai, tikus, hamster, serta marsupial seperti koala. Ia juga menekankan untuk tidak berinteraksi dengan primata non-manusia, baik dalam kondisi hidup maupun mati. "Kami berharap masyarakat dapat proaktif dalam menghindari hewan pengerat ini sebagai langkah pencegahan terhadap virus Mpox," imbuhnya.
Virust ini dapat menular melalui kontak langsung dengan penderita, baik manusia maupun hewan yang terinfeksi, serta melalui kontak tidak langsung dengan keropeng atau luka kulit. Oleh karena itu, penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sangat dianjurkan. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas.
Sejauh ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak melaporkan tidak adanya kasus *Mpox* yang terdeteksi di wilayah mereka. Budi mengajak masyarakat untuk terus membudayakan PHBS agar dapat mencegah penyebaran virus tersebut.
Budi mengingatkan agar masyarakat yang mengalami demam disertai ruam yang mirip dengan gejala *Mpox* untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Dalam upaya penanganan, pihaknya tengah mengoptimalkan sistem surveilans di 44 Puskesmas hingga rumah sakit untuk deteksi dini, serta melakukan pelaporan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dalam pengamatan, virus *Mpox* lebih banyak menyerang laki-laki, terutama mereka yang berada pada usia produktif, banyak di antara mereka telah terdiagnosis dengan *ODHIV* dan beberapa juga terkonfirmasi menderita sifilis.
Gejala awal infeksi *Mpox* meliputi demam yang melebihi 38 derajat Celcius dan munculnya ruam dalam jangka waktu satu hingga tiga hari setelah demam. Penampakan ruam tersebut bervariasi, mulai dari macula, papula, vesikel, hingga pustula, dengan pola yang seragam di seluruh bagian tubuh.
Ruam ini berkembang secara perlahan dalam rentang waktu tiga hingga empat minggu, mulai muncul di area kepala, dengan konsentrasi yang lebih padat di wajah dan anggota badan, serta dapat muncul di telapak tangan dan telapak kaki. Ciri khas dari infeksi ini adalah limfadenopati atau pembesaran kelenjar getah bening, dengan tingkat kematian mencapai tiga hingga enam persen.
ANTARA
Imbauan Dinkes Lebak, Hindari Kontak Hewan Pengerat Cegah Mpox
Bagikan:

BANTEN –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kepala DLH Palangka Raya Tinjau Langsung Pengelolaan Sampah di Dua Kecamatan
Polri Pantau Kawasan Konservasi Perkuat Perlindungan Orang Utan
Bupati Kobar Bermalam di TNTP Pantau Pemadaman Karhutla dan Kebutuhan Relawan
Dana Rp240 Miliar Disalurkan untuk Tangani Karhutla di Kalbar
Indeks Kualitas Udara Palangka Raya Capai 1.506, Masuk Kategori Berbahaya
Penyelundupan 65 Cartridge Diduga Etomidate di Rutan Salemba Digagalkan
Komentar (0)
Memuat komentar…







