KUPANG –
**Borneonews - Kupang**, Pos Pemantau Gunung Lewotobi Laki-Laki yang terletak di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, telah melaporkan terjadinya dua kali erupsi dalam enam jam terakhir, tepatnya antara pukul 12.00 WITA hingga 18.00 WITA. Ketinggian erupsi tersebut tercatat berkisar antara 400 hingga 800 meter dari puncak gunung. Dany Erlangga Yosa Putra, penyusun laporan dari Pos Pemantau Gunung Lewotobi Laki-Laki, menyatakan bahwa kedua letusan tersebut menghasilkan asap dengan warna putih dan kelabu. Laporan ini disampaikan sebagai bagian dari pemantauan perkembangan aktivitas vulkanik gunung api Lewotobi Laki-Laki, yang saat ini berada pada level III atau status siaga. Selama periode erupsi ini, kondisi gunung terlihat jelas dan kabut berada pada kategori 0-I. Asap yang berasal dari kawah gunung teramati berwarna kelabu dengan intensitas yang cukup tebal. Selain itu, pemantauan menunjukkan adanya aliran lava ke arah Timur Laut yang terukur sejauh kurang lebih 4.340 meter dari pusat erupsi. Dalam laporan tersebut, dijelaskan bahwa erupsi disertai dengan amplitudo yang bervariasi antara 2,96 hingga 8,88 milimeter dan durasi yang berkisar antara 253 hingga 302 detik. Sementara itu, telah terdeteksi tiga kejadian gempa tremor harmonik dan satu kejadian gempa dengan frekuensi rendah. Terdapat juga satu kejadian hibrida fase dan sembilan kali gempa vulkanik dalam yang terpantau. Menyikapi kondisi tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVBMG) memberikan rekomendasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki agar mematuhi imbauan keselamatan. PVBMG mengingatkan kepada penduduk lokal dan para pengunjung agar tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi. Selain itu, mereka juga mengimbau agar wisatawan tidak beraktivitas di Gunung Lewotobi Perempuan dalam jarak empat kilometer ke arah Barat Laut Utara dan Selatan-Tenggara. Dampak dari aktivitas erupsi yang terus berlangsung ini juga menyebabkan gangguan pada sektor penerbangan, dengan beberapa bandara di Flores menghentikan operasionalnya. Di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, sebagai contoh, bandara tersebut sudah tidak beroperasi selama dua bulan terakhir akibat dampak dari aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-Laki yang masih berlangsung hingga saat ini. ANTARA