BANJARMASIN –
**Borneonews - Banjarmasin**, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan (Dispar Kalsel) akan segera menyalurkan bantuan hibah fisik dengan nilai mencapai Rp150 juta untuk kelompok sadar wisata, atau yang biasa dikenal dengan *Pokdarwis*. Bantuan ini bertujuan untuk mendukung pengelolaan objek wisata yang tersebar di 13 kota dan kabupaten di wilayah tersebut. Musrefinah Lediya, Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Pariwisata Dispar Kalsel, mengungkapkan bahwa bantuan tersebut akan digunakan untuk membangun fasilitas seperti paving blok, mushola, dan gazebo. Hal ini merupakan bagian dari upaya Dispar Kalsel dalam mengembangkan sektor pariwisata di daerah. Dijelaskannya, Dispar Kalsel, terutama dalam bidang Destinasi, berkomitmen untuk memberikan bantuan hibah fisik ini kepada pengelola objek wisata, dengan nilai sekitar Rp150 juta per kabupaten atau kota pada tahun 2025. Lediya menambahkan, dalam penyaluran bantuan ini, Dispar Provinsi Kalsel bekerja sama dengan instansi pariwisata di tingkat kabupaten dan kota untuk menentukan destinasi wisata mana saja yang akan mendapatkan bantuan tersebut. Lediya juga menjelaskan tentang prosedur pengajuan proposal. Jika *Pokdarwis* mengelola objek wisata yang berada di lahan milik pemerintah daerah, proposal pengajuan harus diajukan oleh Dispar kabupaten atau kota. Sementara itu, jika objek wisata dikelola di lahan milik pribadi, proposal dapat diajukan langsung oleh *Pokdarwis*, dengan syarat yang diajukan harus memiliki legalitas badan hukum. Proposal untuk bantuan ini akan dibuka pada tahun 2024. Selain memberikan bantuan hibah fisik, Dispar Kalsel juga memberikan pelatihan dalam hal mitigasi bencana bagi beberapa *Pokdarwis* di Kabupaten Tanah Bumbu. Hal ini menjadi sangat penting mengingat potensi risiko bencana di lokasi-lokasi wisata. Selanjutnya, Lediya menyatakan bahwa Dispar Kalsel sedang mengembangkan kemampuan standar prosedur dalam menangani dan memitigasi bencana di objek wisata. Pelatihan ini juga mencakup penggunaan media sosial sebagai alat promosi dan penyampaian *story telling* yang efektif. Lediya berharap agar para pengelola *Pokdarwis* dapat memahami sejarah objek wisata yang mereka kelola dan mampu menyampaikan informasi tersebut kepada pengunjung, sehingga dapat meningkatkan daya tarik wisata. Kabupaten Tanah Bumbu menjadi fokus perhatian, mengingat daerah tersebut memiliki berbagai destinasi alam yang menarik, termasuk beberapa pantai terkenal seperti Pantai Pagatan dan Pantai Angsana, serta objek wisata geosite dalam Geopark Meratus, contohnya Goa Liang Bangakai dan Wisata Manggrove. Lebih jauh lagi, Lediya menekankan bahwa peran *Pokdarwis* sangatlah penting. Mereka merupakan mitra dan perpanjangan tangan pemerintah dalam mengembangkan sektor pariwisata di daerah. Tanpa keberadaan *Pokdarwis*, pengawasan serta pengelolaan sektor pariwisata akan mengalami kesulitan. Dengan demikian, harapan besar tertuju pada *Pokdarwis* agar terus berperan aktif dan bersinergi dengan pemerintah dalam memajukan pariwisata di Kalimantan Selatan. ANTARA