JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, The Habibie Center berkolaborasi dengan Society of Renewable Energy telah meluncurkan edisi perdana buku berjudul *Climate Action 101: Indonesia’s Guide for Newbies* di ajang Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2024. Peluncuran ini berlangsung di Jakarta pada tanggal 6 September 2024. Sekretaris Dewan Pengurus The Habibie Center, Nadia Habibie, mengungkapkan bahwa buku ini ditujukan khusus untuk generasi muda Indonesia. Buku ini menyajikan informasi yang esensial mengenai perubahan iklim. "Kami meyakini bahwa menangani isu perubahan iklim sangat penting bagi generasi masa depan," ujarnya. Nadia menegaskan melalui karya tersebut, mereka menginginkan terciptanya sistem yang lebih adil dengan mekanisme *checks and balances*. Ini dilakukan agar kepentingan seluruh anggota masyarakat dapat terlindungi dengan baik. Di tengah krisis dan tantangan lingkungan yang tak pernah terjadi sebelumnya, buku ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi kaum muda untuk memahami lebih dalam mengenai isu-isu iklim yang sedang dihadapi di Indonesia. Selanjutnya, Aufar Satria, Komisioner dari Society of Renewable Energy Indonesia, menjelaskan bahwa dalam bab pertama buku ini dibahas tentang perubahan iklim. Dia menekankan pada sains yang mendasarinya, dengan fokus pada situasi yang terjadi di Indonesia dan wilayah sekitarnya. Di dalam bab kedua, buku tersebut menguraikan berbagai solusi, mendetailkan langkah-langkah yang bisa diambil untuk mencapai target emisi nol bersih. Sementara itu, bab ketiga membahas kontribusi individu dalam upaya penanganan perubahan iklim, misalnya dengan bergabung dalam komunitas energi terbarukan atau terlibat dalam ekosistem pekerjaan hijau. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa ada banyak pencapaian yang diraih selama ISF 2024 yang berlangsung dari 5 hingga 6 September. Dia merinci bahwa setelah rangkaian kegiatan tersebut, kerja sama dalam ekspor listrik energi terbarukan sebanyak 3,4 gigawatt dengan Singapura berhasil terjalin, dengan potensi nilai ekonomi mencapai 25 hingga 30 miliar dolar AS. Dalam acara yang dihadiri sekitar 11 ribu peserta dari 53 negara ini, Indonesia juga berhasil melakukan penjajakan awal kerja sama terkait fasilitas penangkapan karbon (*carbon capture storage/CCS*). ANTARA