JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Polusi udara kini menjadi salah satu isu penting yang diharapkan dapat menjadi fokus utama dalam pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka untuk periode 2024-2029. Dalam konteks ini, Bicara Udara, sebuah yayasan yang berkomitmen pada isu kualitas udara, menjalin kemitraan dengan Systemiq untuk menjadi *knowledge partner* di Indonesia International Sustainability Forum (ISF). Co-Founder Bicara Udara, Ratna Kartadjoemena, menyatakan bahwa mereka berupaya mendorong pemerintahan yang akan datang untuk menjadikan penanganan polusi udara sebagai salah satu prioritas. Melalui kolaborasi ini, mereka berharap dapat mengedukasi masyarakat serta mengadvokasi para pemangku kepentingan agar polusi udara diakui sebagai masalah nasional yang mendesak. Isu polusi udara telah mendapat perhatian lebih dalam forum tersebut, khususnya pada sesi tematik yang menyoroti kualitas udara di Indonesia. Salah satu alasan utama yang dibahas adalah kurangnya integrasi data dan inventarisasi sumber emisi yang diperlukan untuk mendukung pembuatan kebijakan yang lebih efektif dalam pengendalian polusi. Ratna juga menekankan perlunya pemerintahan selanjutnya untuk menggunakan data serta bukti ilmiah dalam menangani permasalahan polusi udara. Hal ini sangat penting, terutama mengingat data dari BPJS Kesehatan yang mencatat bahwa antara 2018 hingga 2022, biaya yang timbul akibat penyakit pernapasan terkait polusi udara mencapai Rp18 triliun. Angka ini mencerminkan dampak negatif polusi udara terhadap kesehatan masyarakat sekaligus memberikan beban ekonomi yang besar. Ratna menggarisbawahi bahwa kebijakan yang diambil harus didasarkan pada data dan bukti ilmiah. Penanganan polusi menjadi hal yang tidak bisa ditunda lagi, terutama untuk mencapai visi Indonesia Emas di masa depan yang berhubungan langsung dengan kesehatan anak-anak dan generasi mendatang. Oleh karena itu, Bicara Udara berencana untuk mengusulkan beberapa rekomendasi kepada pemerintah baru, antara lain peningkatan alokasi anggaran untuk perbaikan kualitas udara, penambahan alat sensor pemantau kualitas udara, serta peningkatan koordinasi lintas batas untuk mengatasi masalah polusi yang bersifat *transboundary*. Dalam forum tersebut, Ratna juga memberikan apresiasi kepada semua pihak yang berkontribusi dalam ISF 2024, terutama dalam sesi yang membahas mengenai kualitas udara. Menurutnya, acara ini menampung berbagai pemangku kepentingan, termasuk pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, dan organisasi non-pemerintah, untuk bersama-sama mencari solusi dan menerapkan praktik terbaik dalam upaya mengurangi polusi udara di tanah air. Di samping itu, Dirgayuza Setiawan, yang juga menjabat sebagai editor buku "Strategi Transformasi Bangsa Prabowo Subianto", menggarisbawahi bahwa pencapaian ambisi pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen tidak mungkin terwujud tanpa penanganan polusi udara yang serius. Ia menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia dapat terancam jika polusi tidak segera diatasi, yang berdampak pada harapan hidup masyarakat Indonesia yang saat ini hanya mencapai 68 tahun, jauh di bawah rata-rata global. Dirgayuza melanjutkan dengan menekankan bahwa mengatasi polusi bukan hanya tentang kesehatan, tetapi juga peluang ekonomi yang bisa dimanfaatkan. Pengelolaan lingkungan yang baik dapat meningkatkan daya saing Indonesia dalam perspektif global, selain mendukung pengembangan ekonomi hijau. Ia menyatakan bahwa visi pemerintahan Prabowo-Gibran untuk meningkatkan potensi ekonomi hijau sangat sejalan dengan upaya menciptakan kendaraan ramah lingkungan, seperti mobil dan bus listrik. Sebagai penutup, Dirgayuza mengungkapkan bahwa langkah-langkah untuk mengatasi polusi udara akan membawa dampak yang positif, tidak hanya dalam meningkatkan harapan hidup masyarakat, tetapi juga dalam mendukung pertumbuhan ekonomi hijau serta menarik talenta global untuk berinvestasi di Indonesia. ANTARA