**Borneonews - Batam**, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, Moch. Bisri, mengonfirmasi bahwa seluruh puskesmas di wilayah tersebut telah bersiap untuk menangani kasus *monkeypox* atau yang lebih dikenal dengan istilah Mpox. Hal ini seiring dengan masuknya penyakit tersebut ke kawasan Asia Tenggara.
"Kesiapan puskesmas menjadi bagian dari kebijakan nasional kami yang bertujuan untuk memperkuat pertahanan kesehatan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kejadian luar biasa (KLB). Ini tidak hanya berlaku untuk Mpox, tetapi juga untuk berbagai penyakit menular lainnya seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan COVID-19," kata Bisri saat dihubungi di Batam.
Bisri menjelaskan bahwa penanganan Mpox sejatinya mirip dengan penanganan penyakit menular lainnya. Namun, karena Mpox adalah penyakit yang baru, tidak semua tenaga kesehatan memiliki pengetahuan mendalam mengenai cara penanganannya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyelidikan yang lebih komprehensif.
"Tenaga kesehatan kami telah ditunjuk sebagai penanggung jawab untuk program penanganan penyakit menular. Mereka sudah dilatih mengenai cara menangani kasus, kondisi klinis, pengambilan sampel, dan penyusunan laporan. Semua prosedur ini telah dilakukan," jelas Bisri.
Hingga saat ini, belum ada laporan kasus Mpox di Kepulauan Riau. Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dari total 88 kasus Mpox yang tercatat di Indonesia, satu di antaranya dilaporkan berasal dari Kepulauan Riau.
Menurut informasi yang didapat, kasus yang terindikasi sebagai Mpox terjadi pada bulan Oktober 2023. Setelah dilakukan pemeriksaan, pasien tersebut dinyatakan terinfeksi dengan kategori gejala yang ringan dan telah menjalani perawatan medis hingga kondisi kesehatan mereka kembali normal.
Bisri menambahkan bahwa sebagian besar kasus Mpox berhubungan dengan perilaku seksual berisiko dan sering kali terjadi di kelompok masyarakat yang rentan. Untuk mencegah penyebaran penyakit ini, ia menekankan pentingnya penerapan langkah-langkah pencegahan, termasuk penerapan protokol kesehatan yang ketat, seperti memakai masker saat berada di luar rumah, mencuci tangan secara teratur, serta menjaga pola makan dan istirahat yang cukup.
"Kembali kepada tanggung jawab masing-masing individu sangat penting, sehingga masyarakat tidak perlu dipaksa untuk selalu menggunakan masker atau menjalankan pola hidup sehat," ujarnya.
Lebih lanjut, Bisri menyatakan bahwa kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk mencegah Mpox masuk ke wilayah Kepulauan Riau. "Elemen seperti Balai Karantina Kesehatan sangat berperan dengan melakukan pengawasan di pintu-pintu masuk, terutama bagi para pekerja migran yang kembali dari luar negara. Pemeriksaan kesehatan harus dilakukan tidak hanya terkait Mpox, tetapi juga untuk penyakit menular lainnya," tambahnya.
ANTARA
Kesiapan Puskesmas di Kepri Hadapi Kasus Mpox dan Kewaspadaan Kesehatan
Bagikan:

BATAM –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Hadapi Isenmulang FC, PSIM Fokus Pulihkan Fisik dan Benahi Pertahanan
Jadwal Super League: Persib Hadapi Garudayaksa, Derbi Suramadu Warnai Pekan Ketujuh
Pria di Sampit Dilaporkan ke Polres Kotim atas Kasus Asusila terhadap Anak 8 Tahun
Penerbangan di Kalteng Terdampak Karhutla, Kemenhub Minta Penumpang Rutin Cek Jadwal
Kalteng Prioritas Penanganan Karhutla, BNPB: Bantuan Luar Negeri untuk Teknologi Pemadaman
Komentar (0)
Memuat komentar…







