JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melaksanakan 2.328 kegiatan edukasi keuangan yang berhasil menjangkau 3.164.313 peserta di seluruh Indonesia dalam rentang waktu dari 1 Januari hingga 31 Agustus 2024. Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan pentingnya upaya literasi keuangan ini, yang dilakukan bersamaan dengan penguatan program inklusi keuangan. Hal ini dicapai melalui kolaborasi dalam Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), yang melibatkan berbagai kementerian, lembaga, pelaku usaha jasa keuangan, akademisi, serta *stakeholders* lainnya. Dalam acara konferensi pers mengenai hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK Bulanan Agustus 2024, Friderica mencatat bahwa sampai akhir Agustus 2024, telah terbentuk 534 TPAKD yang tersebar di 36 provinsi dan 498 kabupaten/kota. Angka ini menunjukkan bahwa 96,74 persen dari TPAKD telah melaporkan pembentukan mereka baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Sebagai bagian dari monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan program kerja TPAKD, OJK telah menyelenggarakan Rapat Koordinasi TPAKD untuk wilayah Indonesia Tengah pada 28 Agustus 2024 dan untuk wilayah Indonesia Timur pada 29 Agustus 2024. Rapat tersebut dihadiri oleh perwakilan dari seluruh pemerintah provinsi dan kantor OJK setempat. Aplikasi *Sikapi Uangmu* sebagai media komunikasi digital khusus konten edukasi keuangan juga turut berperan aktif. Dalam platform ini, telah dipublikasikan sebanyak 284 konten edukasi keuangan, yang menarik perhatian 1.118.604 *viewers*. Selain itu, terdapat 64.391 pengguna *Learning Management System* (LMS) Edukasi Keuangan OJK, yang mencatat total akses mencapai 89.497 kali terhadap modul-modul yang disediakan, serta penerbitan 71.560 sertifikat kelulusan dari modul yang diikuti. Dalam upaya lebih lanjut, OJK bersama dengan Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) meluncurkan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan) pada 22 Agustus 2024. Gerakan ini bertujuan untuk mengakselerasi upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan secara massif dan merata di seluruh Indonesia. Acara tersebut dihadiri oleh 1.700 peserta secara *offline* dan 5.700 peserta secara *online*, yang terdiri dari para pemimpin industri jasa keuangan, pelajar, mahasiswa, pelaku UMKM, serta komunitas lainnya. "Tujuan dari Gencarkan adalah untuk menjangkau seluruh kabupaten/kota dan kelompok prioritas dengan sinergi dan kolaborasi bersama Pelaku Usaha Jasa Keuangan dan *stakeholders* lainnya," ungkap Friderica. Target dari program ini mencakup 90 persen pelajar yang memiliki tabungan, 2,5 juta mahasiswa dan pemuda yang memiliki rekening, serta 1,6 juta UMKM yang mendapatkan kredit melalui program Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir (K/PMR). Selain itu, diharapkan 30 persen penyandang disabilitas dapat menggunakan produk keuangan, dengan indeks inklusi keuangan nasional ditargetkan mencapai 98 persen pada tahun 2045. Pada sektor layanan konsumen, OJK mencatat hingga 31 Agustus 2024 telah menerima 262.837 permintaan layanan melalui Aplikasi Portal Pelindungan Konsumen (APPK), yang mencakup 20.690 pengaduan. Dari jumlah pengaduan tersebut, sebanyak 7.280 berasal dari sektor perbankan, 7.763 dari industri *financial technology*, 4.464 dari perusahaan pembiayaan, dan 894 dari industri asuransi. Sisa pengaduan lainnya berasal dari layanan sektor pasar modal dan berbagai industri keuangan non-bank. ANTARA