JAKARTA –
**Borneonews - Moskow**, Azerbaijan dan Armenia telah melaporkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan yang hampir mencakup 80 persen dari teks perjanjian damai. Hal ini disampaikan oleh Presiden Ilham Aliyev saat berpidato di sebuah forum internasional yang disiarkan secara langsung di Kota Cernobbio pada hari Jumat. Dalam kesempatan tersebut, Presiden Azerbaijan tersebut menyatakan keyakinannya mengenai prospek perdamaian di kawasan Kaukasus Selatan. Ia mengungkapkan, "Perkembangan terkini dalam negosiasi antara Azerbaijan dan Armenia menunjukkan bahwa kami berada di jalur menuju perdamaian. Kami sedang melanjutkan diskusi secara aktif, dan hampir 80 persen teks perjanjian damai telah disetujui." Aliyev juga menekankan bahwa negara-negara tersebut telah memulai proses penetapan batas wilayah. "Ini bukan sekadar delimitasi, tetapi juga demarkasi. Meskipun langkah ini masih kecil—dengan baru 13 kilometer dari lebih seribu kilometer perbatasan yang telah disepakati—ini merupakan arah yang positif," jelasnya. Ia berharap inisiatif Azerbaijan untuk memulai dialog damai ini akan membawa pada penandatanganan perjanjian damai. Aliyev meyakini bahwa kesepakatan tersebut akan memiliki dampak signifikan, tidak hanya bagi Kaukasus Selatan tetapi juga bagi stabilitas global. Hubungan antara Baku dan Yerevan cenderung tegang sejak tahun 1991, ketika pasukan Armenia menguasai wilayah Karabakh, yang secara internasional diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, serta tujuh wilayah sekitarnya. Sebagian besar dari wilayah tersebut kemudian berhasil dibebaskan oleh Azerbaijan dalam konflik yang berlangsung selama 44 hari pada musim gugur 2020. Konflik tersebut berakhir dengan kesepakatan damai yang ditengahi oleh Rusia, yang menjadi langkah awal untuk normalisasi hubungan dan penetapan perbatasan kedua negara. Baru-baru ini, pada bulan September, Azerbaijan berhasil mendapatkan kendali penuh atas Karabakh setelah melaksanakan operasi militer yang efektif dalam mengatasi perlawanan separatis di wilayah tersebut. ANTARA