JAKARTA –
**Borneonews - Ramallah**, Seorang aktivis yang memiliki kewarganegaraan ganda Turki dan Amerika Serikat, Aysenur Ezgi Eygi, kehilangan nyawanya akibat tembakan yang dilancarkan oleh pasukan Israel. Insiden tragis ini terjadi pada hari Jumat, 6 September, saat Eygi berpartisipasi dalam sebuah demonstrasi di Kota Beita, yang terletak di Distrik Nablus, Tepi Barat yang saat ini berada di bawah pendudukan Israel. Fouad Nafaa, yang menjabat sebagai direktur di Rumah Sakit Rafidia, menyampaikan kepada Anadolu bahwa Eygi tiba di rumah sakit dalam kondisi kritis akibat luka tembak di bagian kepala. Meskipun para tenaga medis berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawanya, Eygi dinyatakan meninggal dunia akibat luka-lukanya. Berbagai saksi mata melaporkan bahwa pasukan militer Israel menembaki sekelompok warga Palestina yang tengah melaksanakan protes terhadap pembangunan permukiman ilegal di Gunung Sbeih, Beita, yang berada di selatan Nablus. Protes ini merupakan bagian dari aksi rutin yang dilakukan oleh masyarakat setempat setiap minggu, biasanya setelah pelaksanaan shalat Jumat. Melalui laporan resmi, kantor berita Palestina, Wafa, mengonfirmasi bahwa Eygi merupakan seorang relawan dari kampanye bernama Fazaa. Kampanye ini bertujuan untuk memberikan dukungan serta perlindungan kepada para petani Palestina, yang sering kali mengalami pelanggaran oleh pemukim ilegal dan tentara Israel. Masyarakat Palestina secara tegas menuntut agar pemukiman ilegal yang disebut Avitar, yang dibangun di atas Gunung Sbeih, segera dibongkar. Mereka memandang pembangunan tersebut sebagai pelanggaran terhadap hak mereka atas tanah yang sah. Ketegangan di wilayah Tepi Barat yang diduduki semakin meningkat, terlebih Israel juga melanjutkan serangan yang dilakukan di Jalur Gaza. Sejak 7 Oktober tahun lalu, konflik ini telah mengakibatkan jumlah korban yang sangat tinggi, di mana hampir 40.900 warga Palestina, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak, dilaporkan tewas akibat serangan tersebut. Dalam catatan terpisah, Kementerian Kesehatan setempat mengungkapkan bahwa sedikitnya 691 orang telah kehilangan nyawanya dan lebih dari 5.700 orang lainnya menderita luka-luka sebagai dampak dari agresi Israel di Tepi Barat sejak waktu tersebut. ANTARA