BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur kerjasama dengan Bank Indonesia Palangka Raya kembangkan komoditas cabai. Komoditas cabai merupakan salah satu komoditas pemicu inflasi selain bawang merah di Kalimantan Tengah.
“Kita bersyukur dengan adanya kerjasama ini, bagaimana ketergantungan kita pada komoditas cabai bisa teratasi,” kata Kepala Dinas Pertanian Peternakan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (DP3KP) Kotim, I Made Dikantara, Kamis (21/7/2016).
Pemkab Kotim bersama Bank Indonesia menggelar seminar dan lokakarya (Semiloka) di Hotel Aquarius Sampit. Pada kesempatan itu hadir unusr Bank, petani cabai, para kepala desa/lurah dan pedagang cabai di Kotim.
Mereka merumuskan bagaimana langkah yang akan diambil ke depan dalam rangka mengembangkan komoditas cabai di daerah itu. Kotim diakui sangat cocok untuk tanaman holtikultura seperti cabai.
Made mengatakan, jika dilihat dari latar belakang, Kotim memiliki jumlah penduduk terbanyak di Kalteng sebanyak 405.700 jiwa. Kebutuhan cabai per bulan sekitar 75 ton. Sedangkan pada 2015 sekitar 500 ton saja dan pada 2016 ini sebanyak 700 ton yang dibutuhkan.
“Tahun kemarin tanaman cabai kita seluas 15 hektare, sekarang (2016) bertambah menjadi 71 hektare,” kata Made.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kalteng Setian mengatakan, upaya pengembangan cabai ini karena memang komoditas itu masih defisit dan penyumbang inflasi.
Data yang diperoleh BI dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kalteng menunjukkan pada 2014 produksi cabai di Kalteng baru 4.828,3 ton. Cabai rawit 3.884,3 ton dan cabai merah 944 ton. Sementara kebutuhan masyarakat mencapai 6.555,54 ton per tahun. Cabai rawit 3.269,27 ton, cabai merah 3.386,28 ton. sehingga masih ada selisih sekitar 1.727,24 ton.
“Tidak heran kalau beberapa pedagang mendatangkan dari Kalimantan Selatan dan Jawa karena di daerah kita masih sangat kurang. Bila kondisi iklim kurang baik maka distribusi dari daerah lain terhambat, kondisi ini mengakibatkan stok di pasar menjadi langka dan memicu lonjakan harga sangat signifikan,” kata Setian.
Ditinjau dari aspek luasan wilayah dan jumlah penduduk, Kotim merupakan wilayah yang cukup ptensial untuk didorong menjadi penghasil cabai bagi Kalteng.
Menurut data Badan Pusat Statistik pada 2014 luas wilayah Kotim sebesar 16.796 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 405.700 jiwa. Dari jumlah penduduk tersebut ada 2.315 rumah tangga yang menjadikan komoditi holtikultura sebagai usaha tani yang digeluti, termasuk cabai. Selain itu, melalui APBN 2016 Kotim mendapat bantuan program untuk mengembangkan cabai rawit seluas 75 ha.
“Beberapa langkah strategis yang sudah kami lakukan bersama DP3KP Kotim pada 2015 adalah mengembangkan demplot kaji terap pengembangan cabai merah di Poktan Tunas Rimba Kelurahan Tanah Mas seluas 0,25 ha dengan produksi 1,189 kg atau setara dengan nilai penjualan Rp11,7 juta. Dan Poktan Karya Tani di Desa Bapeang untuk luasan 0,50 ha dengan produksi 3,967 kg,” papar Setian. (RAFIUDIN/m)








