KENDARI –
**Borneonews - Kendari**, Pendapatan di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk periode yang berakhir pada 6 September 2024 tercatat mencapai Rp2,861 triliun. Hal ini disampaikan oleh Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sultra. Kepala Kanwil DJPb Sultra, Syarwan, dalam sebuah pertemuan di Kendari, menyatakan bahwa jumlah pendapatan tersebut berasal dari penerimaan dalam negeri, yang terdiri dari pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (*PNBP*). Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa sektor perpajakan di Sultra menyumbang Rp2,195 triliun, sementara sektor *PNBP* memberikan kontribusi sebesar Rp666 miliar. Syarwan juga mencatat bahwa jika dilihat dari perbandingan tahun ke tahun, penerimaan tersebut mengalami kontraksi. Secara khusus, penerimaan dari pajak menunjukkan penurunan sebesar 2,16 persen, sedangkan penerimaan dari *PNBP* menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 1,01 persen. Dalam hal belanja negara, realisasi di Sultra untuk periode yang sama tercatat mencapai Rp17,37 triliun dengan total pagu sebesar Rp26,24 triliun. Angka ini mencakup belanja yang dilakukan oleh Kementerian dan Lembaga (K/L) sebesar Rp5,1 triliun dan transfer ke daerah (TKD) sebesar Rp12,27 triliun. Persentase total realisasi belanja negara kini berada pada angka 64,26 persen dari pagu, dengan rincian bahwa belanja K/L mencapai 60,19 persen dan TKD berada di angka 66,11 persen. Menurut Syarwan, jika dilihat dari tahun ke tahun, belanja K/L mengalami pertumbuhan sebesar 0,17 persen, sedangkan belanja TKD mengalami peningkatan yang lebih signifikan hingga mencapai 10,30 persen. Satu hal yang menarik, belanja tertinggi di Kementerian PUPR mencapai Rp946 miliar atau setara dengan 18,56 persen dari total realisasi di Sultra. Mengenai pertumbuhan belanja, sektor yang mengalami kenaikan tertinggi adalah Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN, yakni sebesar 56,05 persen, khususnya terkait dengan program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (*PTSL*). Kementerian Perhubungan mengikuti dengan pertumbuhan belanja sebesar 41,49 persen. ANTARA