JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Jakarta sebagai ibu kota multilateral Indonesia diakui oleh Wakil Tetap Republik Indonesia di Jenewa, Duta Besar Febrian A. Ruddyard, sebagai pusat yang kaya akan sejarah dan budaya bangsa. Dalam sebuah pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, beliau menegaskan, “Meskipun Jakarta tidak lagi menjalankan perannya sebagai ibu kota Indonesia di masa mendatang, tempat ini akan tetap menjadi *melting pot* yang menggabungkan beragam sejarah dan budaya Indonesia.” Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dubes Febrian dalam acara Resepsi Diplomatik yang mengusung tema "*Joy of Jakarta: Colorful Kampong*" yang berlangsung pada tanggal 6 September. Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-79 Republik Indonesia dan juga bertujuan untuk memperkenalkan serta melestarikan kebudayaan Betawi, yang merupakan simbol dari warisan budaya Jakarta. Lebih lanjut, Duta Besar Febrian menekankan pentingnya pelestarian budaya tradisional sebagai bagian dari identitas bangsa. Ia menyatakan bahwa usaha untuk mempromosikan penghayatan terhadap budaya ini di kancah internasional sangatlah krusial. “Nilai-nilai luhur tentang persatuan dalam keberagaman dan kolaborasi merupakan prinsip yang mendasari peran signifikan Indonesia di forum internasional,” ujarnya. Acara Resepsi Diplomatik tersebut berjalan dengan meriah dan mendapatkan sambutan yang antusias dari sekitar 500 tamu undangan yang terdiri dari kalangan diplomatik, organisasi internasional, serta komunitas Indonesia di Jenewa. Diantara organisasi internasional yang hadir adalah Organisasi Perburuhan Internasional (*International Labour Organization* atau ILO), Persatuan Telekomunikasi Internasional (*International Telecommunication Union* atau ITU), serta Organisasi Meteorologi Dunia (*World Meteorological Organization* atau WMO). Para tamu disuguhkan dengan beragam hidangan kuliner khas betawi, seperti nasi uduk, soto betawi, asinan betawi, bir pletok, serta es selendang mayang. Tidak hanya itu, acara ini juga menampilkan beragam kesenian tradisional yang makin menambah suasana meriah. Di samping menonjolkan kuliner khas, acara tersebut juga berfungsi sebagai platform untuk mempromosikan produk Indonesia di pasar Swiss, antara lain mie instan, kopi, teh, bumbu masak, batik, serta produk dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Bank Indonesia, termasuk juga produk cerutu dari Jepara. Lebih dari sekedar promosi, diharapkan melalui acara ini dapat terjalin kerja sama yang lebih erat antara PTRI dengan berbagai pemangku kepentingan di Jenewa, guna mendukung kepemimpinan Indonesia di berbagai isu multilateral. ANTARA