BOGOR –
**Borneonews - Kabupaten Bogor**, Taman Safari Indonesia yang terletak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kembali melakukan upaya pengawinan dua ekor panda raksasa berdarah Tiongkok, Cai Tao dan Hu Cun. Saat ini, keduanya sudah mencapai usia 14 tahun. Direktur TSI, Jansen Manansang, menyampaikan bahwa pengawinan panda raksasa bukanlah hal yang sederhana selama perayaan ulang tahun Hu Chun di Taman Safari pada hari Sabtu. Taman Safari yang juga menjadikan konservasi satwa sebagai fokus utamanya terus mendalami metode yang efektif untuk mengawinkan panda raksasa ini. CKegagalan terjadi dalam dua percobaan pengawinan selama dua tahun terakhir yang menjadi motivasi untuk terus berinovasi. Lebih lanjut, Manansang menjelaskan bahwa baru-baru ini pasangan panda tersebut telah menjalani prosedur *artificial insemination* atau inseminasi buatan. "Pada tahun ini adalah upaya yang ketiga. Kami juga melakukan riset bersama mitra di Tiongkok untuk meningkatkan peluang keberhasilan," ungkapnya. Cicih Lidia, seorang penjaga panda di Taman Safari Bogor, menambahkan bahwa pengelola TSI memiliki harapan yang besar agar kedua panda tersebut bisa berkembang biak pada tahun ini. Hal ini dikarenakan masa kawin panda hanya berlangsung sekali dalam setahun, dengan periode subur yang sangat singkat, hanya satu minggu. "Jika kami terlewat pada masa subur, kami harus menunggu hingga tahun depan untuk melanjutkan program pemuliaan," jelas Cicih. Dia kemudian menjelaskan bahwa panda raksasa memiliki masa kehamilan antara 90 hingga 150 hari, dengan kebiasaan melahirkan satu ekor anakan dalam satu kali kelahiran. "Saat ini, di Taman Safari hanya terdapat dua ekor panda, yaitu Hu Chun dan Cai Tao. Kami berharap angka ini bisa bertambah tahun ini," tambahnya. Menariknya, kedua panda ini berbeda usia satu bulan, namun keduanya sama-sama berusia 14 tahun. Cicih juga menjelaskan kondisi kunjungan bagi para pengunjung Istana Panda di Taman Safari. Walaupun dalam masa kawin, pengunjung tetap dapat melihat panda, namun pada waktu tertentu, terutama pada saat proses perkembangbiakan, kedua panda tersebut mungkin tidak dapat diperlihatkan. Hu Chun adalah panda betina yang lahir pada 8 September 2010. Nama Hu Chun berarti 'danau di musim semi' atau 'si cantik dari alam'. Di sisi lain, Cai Tao adalah panda jantan yang lahir pada 4 Agustus 2010. Namanya, Cai Tao, memiliki arti 'pemuda tampan, karismatik, dan bangsawan'. Keduanya berasal dari Chengdu, Provinsi Sichuan, Tiongkok, dan kedatangan mereka ke Indonesia berlangsung pada 28 September 2017 setelah menjalani proses karantina yang ketat. Setelah menjalani karantina, kedua panda tersebut beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan, iklim, dan cuaca setempat, termasuk dengan dokter hewan dan penjaga yang bertugas merawat mereka. Pada saat tiba di Indonesia, bobot Hu Chun tercatat 113 kilogram, sementara Cai Tao memiliki bobot lebih berat, yakni 128 kilogram. Pengiriman panda ini menjadi hasil kerjasama antara Indonesia dan Tiongkok dalam upaya konservasi satwa. Kesepakatan untuk mengirimkan panda ini tercapai dalam konteks perayaan 63 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara pada tahun 2013 dan dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman pada tahun 2016 yang melibatkan PT Taman Safari Indonesia serta China Wildlife Conservation Association (CWCA). ANTARA