**Borneonews - Nairobi, Kenya**, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika) bersama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meluncurkan sebuah rencana strategis untuk memperkuat respons terhadap wabah cacar monyet, yang lebih dikenal dengan sebutan *monkeypox* atau *mpox*, yang saat ini berlangsung di kawasan Afrika. Peluncuran inisiatif ini berlangsung pada hari Jumat, 6 September, di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo.
Rencana yang dicanangkan ini berfokus pada sejumlah aspek utama, termasuk peningkatan pengawasan, pengembangan kemampuan diagnostik laboratorium, serta penggerakan upaya vaksinasi untuk menangkal penyebaran penyakit ini secara efektif. Hal ini menunjukkan komitmen yang signifikan untuk memperkuat sistem kesehatan di seluruh benua dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh wabah ini.
Dalam pidato peluncuran rencana tersebut, Jean Kaseya, selaku Direktur Jenderal CDC Afrika, menegaskan rasa bangganya akan peluncuran rencana ini. "Kami merasa bangga untuk melaksanakan rencana ini, yang bersifat kolaboratif dan melibatkan semua pemangku kepentingan. Hal ini memungkinkan kita untuk mengambil pendekatan yang terkoordinasi dalam menangani wabah *mpox* di seluruh wilayah Afrika," ujar Kaseya.
Dia juga menambahkan bahwa strategi yang diusulkan bertujuan untuk memastikan semua mitra memiliki tujuan yang kongruen, dengan tujuan menghindari adanya duplikasi upaya serta memaksimalkan hasil yang diharapkan dalam penanganan wabah ini. Rencana ini, yang dikenal sebagai Rencana Strategis Kesiapsiagaan dan Respons *Mpox*, memiliki anggaran sebesar 600 juta dolar AS dan ditujukan untuk meningkatkan respons di 29 negara anggota.
Matshidiso Moeti, Direktur Regional WHO untuk Afrika, juga memberikan penekanan pada tujuan utama dari inisiatif ini, yakni memperkuat mekanisme pengawasan, pengujian laboratorium, serta melibatkan masyarakat dalam penanganan wabah. Selain itu, Moeti menekankan pentingnya ketersediaan langkah-langkah mitigasi yang penting dan strategis.
"Melalui kolaborasi yang erat, kita dapat mencapai hasil yang lebih optimal. Kekuatan kolektif kita akan mendorong kemajuan lebih jauh, sehingga masyarakat dan individu akan terlindungi dari potensi ancaman yang ditimbulkan oleh virus ini," tandasnya.
Sebelumnya, pada hari Kamis, Kongo menerima pengiriman dos vaksin *mpox* yang pertama, dalam upaya untuk menanggulangi penyebaran virus di lokasi yang menjadi pusat wabah di benua tersebut. WHO telah menetapkan status *mpox* sebagai darurat kesehatan masyarakat global sejak 14 Agustus, sementara CDC Afrika menyatakan situasi ini sebagai Darurat Keamanan Kesehatan Publik Benua (PHECS) sehari sebelumnya.
ANTARA
CDC Afrika dan WHO Luncurkan Rencana Strategis Hadapi Wabah Mpox
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kemenhub: Seluruh Penumpang dan Awak Pesawat Asian One Selamat
Bobon Santoso Hubungi Seskab Teddy, Bantuan Presiden untuk Korban Asap Karhutla Palangka Raya Disiapkan
Terekam CCTV Membobol Warung di Kuala Kapuas, Barang Curian Dikembalikan
Kebakaran Rumah di Desa Kujan Berhasil Dipadamkan
OJK Edukasi 400 Peserta soal Investasi hingga Kejahatan Keuangan Digital
Boccia Rebut Emas ke-15 Bagi Kontingen Indonesia
Komentar (0)
Memuat komentar…







