JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Indonesia berencana untuk memperkuat regulasi dalam sektor penerbangan demi keberlanjutan yang berimplikasi pada pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK). Langkah ini disampaikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam acara bertajuk *Hub Talks: Future Ready Aviation Professionals, Strategies for Achieving Indonesia Emas 2045* yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada hari Sabtu. Menteri Budi Karya memastikan bahwa kementeriannya berupaya untuk memperkuat aturan terkait keberlanjutan dalam industri penerbangan. Hal ini bertujuan agar sektor penerbangan tidak hanya mengalami pertumbuhan secara ekonomi, tetapi juga selaras dengan prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan. Pihaknya menekankan bahwa aspek keberlanjutan merupakan hal krusial yang perlu dicermati, mengingat penerbangan menyumbang kontribusi signifikan terhadap emisi GHG. Sebagai langkah konkret, ia mendorong transisi dari penggunaan bahan bakar fosil menuju sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Penerapan konsep *green aviation* dan pengembangan *smart airport* menjadi prioritas yang perlu didorong di masa mendatang. Menteri Perhubungan juga menegaskan pentingnya strategi kolaboratif serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor ini untuk membangun industri penerbangan yang akan datang dan kompetitif. Selain itu, Kemenhub berkomitmen untuk mempercepat transformasi digital di sektor penerbangan melalui berbagai program pelatihan dan sertifikasi, yang disusun untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan para profesional di bidang penerbangan. "Di tengah bonus demografi yang tinggi, jumlah penduduk usia produktif dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan dalam membangun industri penerbangan yang kuat," ungkapnya. Kunci utama untuk mencapai keberhasilan ini terletak pada peningkatan kualitas SDM melalui *upskilling* dan literasi digital. Dalam waktu dekat, Kemenhub juga akan fokus pada pengembangan infrastruktur digital di bandara, peningkatan layanan penerbangan, dan penguatan kerja sama internasional. Selain itu, regulasi dan kebijakan yang menciptakan ekosistem penerbangan inovatif, efisien, dan berkelanjutan akan terus diperkuat. "Semua langkah ini merupakan bagian dari upaya kita untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045," tambah Menhub. Dalam kesempatan yang sama, Presiden International Civil Aviation Organization (ICAO), Salvatore Sciacchitano, menyampaikan melalui tayangan video tentang rencana Indonesia menjadikan Nusantara sebagai Ibu Kota baru. Hal ini, menurutnya, beserta pembangunan infrastruktur berdesain berkelanjutan, mencerminkan komitmen Indonesia terhadap kemajuan. "Fokus pada transportasi yang cerdas dan berkelanjutan menjadi suatu transisi baru bagi Indonesia dan menjadi contoh bagi negara lain. ICAO merasa bangga dapat berkolaborasi dengan Indonesia," tutur Sciacchitano. Dia juga menyoroti bahwa ICAO dan negara-negara di dunia terus berupaya untuk memperbaiki sektor penerbangan dengan menciptakan pesawat yang lebih aman dan berkelanjutan. Dukungan Indonesia terhadap perlindungan lingkungan dan pengembangan program pelatihan untuk negara berkembang, serta sumbangsih para ahli penerbangan Indonesia di Kantor Regional ICAO APAC, menjadi kontribusi penting dalam pengembangan profesional penerbangan di kawasan Asia Pasifik. Dalam forum yang sama, Direktur Regional ICAO Asia dan Pasifik (APAC), Tao Ma, yang menjadi salah satu narasumber, mengungkapkan hasil audit ICAO tentang pengawasan keselamatan penerbangan. Dia menyatakan bahwa Indonesia telah mencapai skor *effective implementation* (EI) yang baik, meskipun masih terdapat bidang yang perlu ditingkatkan. Tao Ma merekomendasikan bahwa peningkatan keselamatan di sektor penerbangan Indonesia dapat dicapai melalui pelatihan untuk meningkatkan keterampilan SDM. "Menurut saya, pelatihan merupakan salah satu langkah yang sangat diperlukan dalam konteks ini," paparnya. ANTARA