BATAM –
**Borneonews - Batam**, Ratusan warga yang tinggal di Pulau Rempang melaksanakan *Shalat Hajat* di Lapangan Sembulang Hulu pada Sabtu malam sebagai ungkapan memperingati satu tahun terjadinya Tragedi Rempang. Acara ini diadakan dalam suasana damai dan mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian dan TNI, menunjukkan komitmen untuk menjaga keamanan selama kegiatan berlangsung. Kepala Bagian Operasi Polresta Barelang, Kompol Zainal Abidin Tamba, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah pengamanan untuk mendampingi aksi warga. Ia menjelaskan, "Ya tentu ada pengamanan, pasti ada kami siapkan." Kegiatan memperingati Tragedi Rempang dimulai sejak pukul 15.30 WIB di Jembatan 4 Barelang, yang dibuka dengan acara tabur bunga, doa bersama, dan orasi. Sebanyak 25 personel dari Polri, baik dari Polresta Barelang maupun Polsek Galang, terlibat dalam pengaturan arus lalu lintas dan memastikan semua kegiatan berjalan dengan tertib. Usai pelaksanaan *Shalat Magrib*, acara dilanjutkan dengan *Shalat Hajat*, pawai obor, pemutaran film tentang perjuangan masyarakat Rempang, tarian anak-anak setempat, serta pembacaan puisi dan *Gurindam 12*. Dalam heningnya malam, warga menyampaikan orasi yang menggugah semangat tentang pentingnya mempertahankan tanah leluhur mereka. "Saya dan warga di sini akan terus berjuang untuk tanah nenek moyang kami. Kami tidak lagi merasa takut," ungkap Nenek Hawa, seorang tokoh perempuan Melayu yang telah berpengalaman dalam peristiwa tersebut. Nenek Hawa menceritakan pengalamannya menghadapi gas air mata dan tekanan selama kericuhan setahun lalu, namun semua itu tidak memadamkan semangatnya untuk menjaga warisan tanah bagi generasi mendatang. Alasan penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional, yang dikenal sebagai Rempang Eco City, berakar dari permintaan untuk mengosongkan kampung halaman. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Rempang karena mereka akan dipindahkan ke lokasi relokasi yang tidak jelas status kepemilikannya. Selain itu, meninggalkan kampung akan menghilangkan akses terhadap mata pencaharian mereka, baik sebagai nelayan maupun dalam bercocok tanam. Sebelumnya, pada hari Jumat, warga Rempang juga melangsungkan tradisi ziarah ke makam leluhur mereka yang berada di Kampung Lubuk Panjang, Rempang Cate. Kegiatan ini merupakan bentuk penghormatan dan pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya dan tanah nenek moyang. ANTARA