JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Masih terdapat banyak kesalahpahaman dalam masyarakat mengenai demam berdarah dengue (DBD), terutama anggapan bahwa orang yang pernah terinfeksi DBD akan kebal dan tidak bisa terinfeksi lagi. Padahal, kenyataannya, terdapat empat serotipe virus dengue yang berbeda, sehingga seseorang dapat terinfeksi DBD lebih dari sekali, bahkan dengan risiko yang bisa lebih parah. Pernyataan ini disampaikan oleh dr. Buti A. Azhali, SpA, MKes, seorang dokter spesialis anak, dalam acara edukasi yang berjudul “Langkah Bersama Cegah DBD” yang berlangsung di Bandung, Jawa Barat. Dalam kegiatan tersebut, dr. Buti menekankan pentingnya perlindungan yang lebih baik melalui langkah pencegahan yang tepat, salah satunya melalui *vaksinasi*. Di Indonesia, vaksin DBD yang ada saat ini direkomendasikan untuk individu berusia antara 6 hingga 45 tahun. Asosiasi medis, termasuk Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), merekomendasikan vaksin ini untuk anak-anak berusia 6 hingga 18 tahun, sementara Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) merekomendasikannya bagi usia 19 hingga 45 tahun. Namun, agar mendapatkan perlindungan yang optimal, vaksinasi harus dilakukan secara lengkap sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Terkait vaksinasi ini, dr. Buti mengingatkan agar masyarakat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mengenai kemungkinan pemberian vaksin bersamaan dengan vaksin lainnya. Hal ini penting untuk memastikan keamanan dan efektivitas vaksinasi yang dilakukan. Dalam kesempatan yang sama, dr. Anas Ma'ruf, MKM, yang menjabat sebagai Plt Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mengungkapkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan berat akibat DBD. Setiap tahun, ribuan kasus DBD dilaporkan di berbagai daerah. Pemerintah Indonesia telah merancang strategi nasional yang komprehensif untuk menanggulangi penyakit tersebut, fokus pada penguatan sistem surveilans, pengendalian vektor, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam kerangka Strategi Nasional Pengelolaan Dengue 2021-2025, ditetapkan target untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat DBD secara berkelanjutan. Data dari Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa hingga minggu ke-33 tahun 2024, terdapat kumulatif 181.079 kasus DBD dan 1.079 kematian di Indonesia. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan keseluruhan kasus DBD sepanjang tahun 2023 yang tercatat sebanyak 44.438 kasus dengan 322 kematian. Kota Bandung mencatat kasus DBD tertinggi pada periode yang sama, dengan 46.594 kasus dan 281 kematian. Kondisi ini menjadi salah satu alasan di balik digelarnya acara “Langkah Bersama Cegah DBD”, yang merupakan bagian dari kampanye #Ayo3MPlusVaksinDBD, sebuah kolaborasi antara PT Takeda Innovative Medicines, Kementerian Kesehatan, serta pemerintah dan pemangku kepentingan daerah. Bandung menjadi kota ketiga setelah Surabaya dan Jakarta yang menjadi lokasi pelaksanaan acara tersebut. ANTARA