SEMARANG –
**Borneonews - Demak**, Mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) yang sedang melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Pasir, Kabupaten Demak, telah memberikan pelatihan kepada masyarakat setempat mengenai pemanfaatan limbah minyak goreng untuk diolah menjadi lilin aromaterapi. Gagasan di balik pelatihan ini muncul berangkat dari fakta bahwa Desa Pasir merupakan penghasil bawang merah. Di desa tersebut, sebagian hasil panen bawang merah dijual dalam bentuk segar, sementara lainnya diproses lebih lanjut menjadi produk olahan seperti bawang goreng kemasan. Dengan banyaknya pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang beroperasi di wilayah ini, terdapat limbah minyak goreng yang dihasilkan dari proses pengolahan bawang goreng. Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN merasa penting untuk memberikan pelatihan yang bertujuan untuk memanfaatkan limbah ini menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Salah satu solusi yang diajukan adalah dengan mengolah limbah minyak goreng menjadi lilin aromaterapi. Limbah yang selama ini sering dibuang dan berpotensi mencemari lingkungan, diharapkan dapat diberdayakan menjadi barang yang bernilai jual. Pelatihan ini dilaksanakan sepanjang kegiatan KKN bulan ini dan melibatkan partisipasi aktif dari ibu-ibu PKK setempat serta sebelas mahasiswa tim 57. Melalui pelatihan ini, limbah minyak goreng yang diolah dapat menjadi lilin aromaterapi, sekaligus menjadi produk yang dapat dijual sebagai cendera mata. Proses pembuatan lilin aromaterapi ini memerlukan tahapan yang cukup teliti. Pertama, limbah minyak goreng harus dilakukan penjernihan dengan menggunakan arang kayu. Setelah didiamkan selama 24 jam, minyak goreng akan menjadi lebih jernih. Setelah tahap penjernihan, minyak goreng dialihkan ke dalam panci dan dicampur dengan bahan kimia *stearic acid* atau *palm wax* dengan perbandingan 1:1. Campuran ini kemudian diaduk hingga merata sebelum ditambahkan dengan pewarna dan aroma vanila atau pewangi lainnya. Seluruh campuran bahan tersebut dimasak hingga mendidih. Setelah itu, larutan dimasukkan ke dalam cetakan atau gelas kecil yang telah berisi benang bola yang diikat dengan tusuk gigi. Proses akhir adalah menunggu lilin tersebut mengeras, yang memerlukan waktu sekitar 24 jam. Salah satu anggota PKK Desa Pasir, Sri, menyampaikan rasa syukurnya setelah mengikuti pelatihan tersebut. Ia mengungkapkan, "Sebelumnya, saya tidak pernah membayangkan bahwa minyak jelantah bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna, seperti lilin aromaterapi yang bermanfaat dan juga dapat dijual sebagai produk unggulan." Sri menambahkan bahwa ide ini menawarkan solusi kreatif dalam mengolah limbah rumah tangga. Ia menilai bahwa inisiatif ini tidak hanya menguntungkan dari segi ekonomi, tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan. “Sebelumnya, minyak jelantah biasanya dibuang tanpa dipikirkan, tetapi sekarang kami tahu bahwa minyak ini dapat diolah dan dimanfaatkan,” jelas Ana, anggota PKK lainnya, menambahkan bahwa pelatihan seperti ini sangat berguna bagi masyarakat. ANTARA