SURABAYA –
**Borneonews - Lumajang**, Warga Suku Tengger yang bermukim di Desa Ranupani, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, melaksanakan ritual Nyadran dalam rangka merayakan Hari Raya Karo. Perayaan ini berlangsung pada tanggal 15 bulan Karo dalam kalender Saka, yang menjadi puncak dari serangkaian tradisi yang telah dijalankan. Menurut Penjabat Kepala Desa Ranupani, Bambang Sugiarto, tradisi Nyadran merupakan elemen yang tidak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Karo. Ritual ini menjadi titik tolak bagi masyarakat Tengger untuk memperkuat hubungan spiritual dengan leluhur mereka. Nyadran sendiri merupakan kegiatan yang penuh makna, di mana warga Desa Ranupani menunjukkan antusiasme tinggi saat mengikuti prosesi tersebut. Kegiatan ini bukan hanya sekedar ritual, namun juga mencerminkan semangat gotong royong dan solidaritas di antara warga. Ritual tersebut dipimpin oleh dukun adat setempat yang dikenal sebagai Romo Dukun Kariyoleh, beserta dua rekannya, Ngato dan Suwarno. Mereka memiliki peranan vital dalam masyarakat Suku Tengger, bertindak sebagai penjaga tradisi dan penghubung spiritual antara warga dan nenek moyang. Dalam prosesi Nyadran, para dukun memanjatkan doa-doa khusus yang bertujuan untuk memohon berkah dan keselamatan bagi seluruh anggota komunitas. Tradisi Nyadran dimulai dengan keberangkatan warga menuju makam leluhur. Mereka datang berbondong-bondong sambil membawa bunga dan sesaji. Setelah sampai di area pemakaman, proses tabur bunga dilakukan sebagai simbol penghormatan serta ungkapan syukur atas kehidupan yang telah dijalani. Bambang menjelaskan bahwa ritual tabur bunga ini memiliki makna yang mendalam. Bagi masyarakat Suku Tengger, hal tersebut merupakan wujud keyakinan akan pentingnya menghormati leluhur. Mereka percaya bahwa roh-roh leluhur memiliki peranan dalam menjaga keselamatan dan kesejahteraan keluarga serta desa yang mereka tinggali. Di samping aspek spiritual, tradisi Nyadran juga memegang peranan sosial yang tidak kalah penting. Tradisi ini menjadi wadah untuk mempererat hubungan antarwarga dan memperkuat ikatan antargenerasi. Anak-anak dan remaja diikutsertakan dalam prosesi, sehingga mereka dapat belajar tentang nilai-nilai dan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Warga Suku Tengger terus berkomitmen untuk mempertahankan warisan budaya yang telah menjadi identitas mereka. Tradisi Nyadran di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, merupakan simbol ketahanan dan kesetiaan masyarakat Tengger dalam menjaga kearifan lokal yang telah mengakar dalam kehidupan mereka. ANTARA