**Borneonews - Ambon**, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) menegaskan bahwa peringatan Hari Nen Dit Sakmas merupakan langkah strategis dalam upaya menjaga dan melestarikan tradisi *evav* yang telah menjadi bagian penting dari budaya setempat.
Penjabat Bupati Maluku Tenggara, Jasmono, mengungkapkan bahwa kegiatan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat serta pemerintah daerah dalam usaha bersama untuk mengamankan dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya *evav*. Menurut Jasmono, Hari Nen Dit Sakmas tidak hanya sekedar perayaan, tetapi juga sebuah refleksi atas makna mendalam yang terkandung dalam sejarah masyarakat Kei di Maluku Tenggara.
Dalam catatan sejarah, Nen Dit Sakmas merupakan Putri Raja Tebtut dari Bali dan merupakan seorang tokoh perempuan dari Kei yang berperan penting dalam pembentukan norma-norma yang mengatur kehidupan sosial masyarakat di wilayah tersebut. Dia menjadi tonggak penting dalam lahirnya nilai-nilai budaya yang disebut Hawear Balwirin, yang diidentifikasi sebagai hukum penting yang harus dilaksanakan, yakni Hukum Larvul Ngabal.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung dalam peringatan ini mencakup sejumlah acara, dengan puncaknya ditandai oleh ziarah yang dilakukan oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Malra ke tempat persemayaman Rat Ohoi Vuur di Desa Letvuan dan makam Nen Dit Sakmas yang terletak di Ohoi Semawi. Jasmono menyatakan bahwa ziarah ini adalah bentuk penghormatan kepada Nen Dit Sakmas sebagai tokoh kunci dalam lahirnya Hukum Larvul Ngabal.
Dia menambahkan, moment ini seharusnya menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk merenungkan kembali sejarah perjuangan yang telah dilakukan oleh Nen Dit Sakmas dalam meletakkan dan mempertahankan nilai-nilai budaya Larvul Ngabal. Jasmono juga mencatat bahwa setelah melakukan refleksi tersebut, kini masyarakat Malra dihadapkan pada tugas untuk mengaktualisasikan nilai-nilai perjuangan yang ditinggalkan oleh para leluhur dalam kehidupan sehari-hari saat ini dan di masa mendatang.
Lebih lanjut, Jasmono menekankan pentingnya persatuan di tengah perbedaan yang ada. Dia menyatakan bahwa perbedaan seharusnya dijadikan sebagai kekuatan kolektif untuk membangun masa depan masyarakat Malra yang lebih baik, bukan untuk menyebabkan perpecahan. Dalam konteks yang lebih luas, terutama di era industri 4.0 yang sudah bergeser ke era 5.0, Jasmono mengajak masyarakat untuk cerdas dalam memilih budaya luar yang bisa diterima, sembari tetap mempertahankan jati diri dan kekayaan budaya lokal yang sudah ada.
ANTARA
Peringatan Hari Nen Dit Sakmas Untuk Melestarikan Budaya Evav
Bagikan:

AMBON –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Seorang Pria Meninggal Dunia Saat Salat Jum'at di Masjid Al Hidayah Banjarmasin
Bayi Laki-Laki Ditemukan di Pelataran Musala di Kotabaru
Warga Kasongan Dihebohkan Penemuan Mayat Membusuk di Parit Jalan DI Panjaitan
Topan Champi Ancam Taiwan, Sekolah dan Perkantoran Ditutup di 20 Wilayah
Distribusi Masih Jadi Hambatan, Industri Komik Indonesia Dinilai Punya Potensi Besar
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
Komentar (0)
Memuat komentar…







