JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Bumi saat ini menghadapi masalah yang sangat serius akibat perubahan iklim. Keluhan mengenai suhu udara yang meningkat dan kondisi cuaca yang ekstrem semakin sering terdengar dari masyarakat. Para ilmuwan juga terus berbicara tentang dampak-dampak dari perubahan iklim yang semakin meresahkan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa perubahan iklim dapat menyebabkan munculnya penyakit menular yang berpotensi menjadi pandemi, serta memperburuk penyakit tidak menular. Dia menjelaskan lebih lanjut bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi interaksi antara manusia dan hewan. Semakin sering interaksi tersebut terjadi, semakin besar kemungkinan terjadinya pandemi, seperti yang terjadi pada flu burung. Budi juga menyoroti masalah gizi yang bisa muncul akibat dampak perubahan iklim. Naiknya permukaan laut mengharuskan lahan untuk produksi makanan semakin menyusut, yang pada gilirannya mengurangi kemampuan manusia untuk memenuhi kebutuhan gizi. Dengan kondisi lahan yang semakin terbatas, pemukiman manusia yang padat menjadi tidak terhindarkan, sehingga segala fungsi kehidupan terkonsentrasi dalam satu ruang yang sempit. Tidak hanya berdampak pada kesehatan, perubahan iklim juga memengaruhi aspek ekonomi. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan bahwa jika perubahan iklim tidak ditangani dengan serius, maka Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dapat mengalami penurunan hingga 10 persen pada tahun 2025. Penurunan tersebut akan mempersulit upaya pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja bagi generasi muda. Sri Mulyani menjelaskan bahwa meningkatnya temperatur global akan memicu lebih banyak bencana alam yang dapat menghancurkan infrastruktur. memperbaiki infrastruktur yang rusak tentu memerlukan biaya yang besar. Perubahan iklim pun berpotensi merusak tatanan sosial dan politik, terutama bagi kelompok-kelompok masyarakat miskin yang paling terdampak oleh situasi ini. Hal ini dapat memperbesar kesenjangan sosial dan memperparah konflik politik. “ASEAN sebagai wilayah yang mempunyai pertumbuhan ekonomi, tetap tak kebal dari ancaman perubahan iklim dan geopolitik,” ujar Menteri Keuangan dalam sebuah forum. Ancaman-ancaman tersebut mendorong manusia untuk mencari solusi agar bisa bertahan hidup. Saat ini, teknologi belum memungkinkan manusia untuk bertahan di planet lain, sehingga langkah cepat sangat diperlukan untuk menyelamatkan Bumi sebelum terlambat. Dalam konteks ini, emisi dari kendaraan bermotor menjadi salah satu penyumbang krusial masalah lingkungan. Oleh karena itu, dibutuhkan alternatif sumber energi untuk mencapai target ambisius, yaitu mengurangi emisi secara signifikan hingga 40 persen pada tahun 2030 dan mencapai *net zero emission* pada tahun 2060. Indonesia tidak ingin tertinggal dan aktif mencari solusi dalam isu ini. Dalam ajang Indonesia International Sustainable Forum 2024, ribuan peserta dari seluruh dunia berkumpul untuk membahas keadaan darurat yang dihadapi dunia saat ini, serta langkah-langkah untuk mencapai target-target global secara bertahap. Dengan banyaknya kekayaan alam yang dimiliki, Indonesia melalui PLN (Perusahaan Listrik Negara) fokus pada pengembangan energi alternatif guna keberlangsungan hidup di Bumi. Salah satu contohnya adalah hidrogen hijau. Ricky Cahya Andrian, Wakil Presiden Dekarbonisasi PT PLN, menjelaskan bahwa hidrogen hijau yang diperoleh melalui proses elektrolisis air menggunakan energi terbarukan dapat dimanfaatkan dalam berbagai sektor, termasuk industri dan transportasi. Produk turunan hidrogen hijau, seperti amonia dan metanol, diharapkan dapat mendorong dekarbonisasi di industri-industri yang sulit mengurangi emisi, seperti pupuk dan semen. Menggunakan potensi energi terbarukan yang mencapai 3.687 gigawatt, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menyusun peta jalan untuk pengembangan dan penggunaan hidrogen hijau. Harapannya, hidrogen hijau dapat melengkapi sumber energi terbarukan lainnya seperti energi angin dan solar. Setelah modal energi terbarukan tersedia, langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa inovasi tersebut dapat diimplementasikan secara efektif. Menurut Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Rut Krüger Giverin, pemerintah memiliki peran penting dalam mempromosikan gaya hidup berkelanjutan melalui sistem yang mendukung lingkungan hidup. Contohnya, di Norwegia, pemerintah menggunakan simbol untuk menunjukkan tempat pembuangan yang tepat bagi produk-produk yang menjadi sampah. Memahami dinamika pasar juga merupakan kunci untuk mendukung transisi ke energi yang ramah lingkungan. Henry Tanoto, Direktur Astra, mengungkapkan bahwa setiap masyarakat memiliki kebijakan, kebutuhan, dan kapasitas produksi yang berbeda. Oleh karena itu, pilihan-pilihan produk ramah lingkungan harus dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Untuk kendaraan, Astra menawarkan berbagai pilihan sumber energi, seperti baterai listrik, *biofuel*, dan *fuel cell* EV. Dengan berbagai alternatif ini, masyarakat dapat memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka, sehingga perlahan tetapi pasti beralih dari kendaraan yang menghasilkan emisi karbon tinggi ke yang lebih rendah. Namun, langkah-langkah ini masih dilakukan oleh para pemimpin di bidang mereka. Pertanyaan muncul, “Apa yang bisa dilakukan generasi muda?” Dalam sesi diskusi di ISF 2024, CEO PT VKTR Teknologi Mobilitas, Gilarsi Wahju Setijono, menekankan bahwa generasi muda dapat berkontribusi dengan cara belajar dengan baik. Generasi muda memiliki kapasitas untuk menyerap ilmu dengan cepat dan berinovasi, membuka kemungkinan hidrogen sebagai sumber energi masa depan yang lebih terjangkau. Dengan memberikan dukungan kepada mereka, seperti ruang kreatif dan pendanaan, maka upaya menuju *net zero emission* dapat dipercepat. Sebagai contoh, East Ventures dan Temasek Foundation telah mengadakan kompetisi bernama "Climate Impact Innovations Challenge." Lomba ini mengedepankan tiga kriteria aspek yaitu transisi energi, pertanian berkelanjutan, dan ekonomi sirkular. Para peserta berupaya menciptakan produk yang tidak hanya menjadi solusi untuk kelestarian lingkungan namun juga dapat langsung dikomersialisasikan dan diadopsi secara luas. Hadiahnya pun menarik, dengan total Rp10 miliar untuk mendanai proyek pemenang, akses ke investor, serta eksposur di tingkat global. Meskipun perjalanan menuju Bumi yang lebih hijau dan sehat terbilang panjang, jika semua individu bersedia untuk ambil bagian dalam perjalanan ini, maka tantangan yang dihadapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hasil yang akan diraih di masa depan. ANTARA