BANDUNG –
**Borneonews - Cirebon**, Pemerintah Kota Cirebon bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) setempat dalam menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) Pencegahan dan Pengendalian HIV-AIDS serta Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) untuk periode 2024-2026. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat upaya dalam penanganan penyakit tersebut di kawasan ini. Sekretaris KPA Kota Cirebon, Sri Maryati, menyampaikan bahwa penyusunan RAD 2024-2026 ini merupakan kelanjutan dari program yang telah dilaksanakan pada periode 2019-2023. Ia menekankan betapa pentingnya program ini sebagai panduan strategis bagi semua pihak. Keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dinilai sangat diperlukan dalam upaya menanggulangi HIV-AIDS di kota ini. RAD yang disusun mencakup empat strategi utama. Strategi tersebut meliputi penguatan kepemimpinan program, peningkatan pemahaman masyarakat mengenai HIV-AIDS, perluasan akses terhadap layanan kesehatan, serta penguatan kemitraan lintas sektor. Sri juga menjelaskan bahwa penyusunan RAD ini akan melalui lima tahapan yang meliputi dua kali pertemuan untuk penentuan penyusunan, tiga kali pembahasan, dan dilanjutkan dengan tahap penyebaran informasi. Kota Cirebon menjadi satu-satunya daerah di Jawa Barat yang telah melaksanakan penyusunan RAD HIV-AIDS dengan fokus pada penguatan peran lintas sektoral. Pemerintah kota berkomitmen untuk mencapai target *Three Zero* pada tahun 2030. Target tersebut mencakup tidak adanya infeksi baru, tidak ada kematian akibat HIV-AIDS, dan upaya untuk menghapus stigma serta diskriminasi terhadap pengidap penyakit ini. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon, pada tahun 2023 tercatat 362 kasus baru HIV-AIDS, dengan total akumulasi mencapai 3.070 kasus. Hingga Desember 2023, telah terdaftar sebanyak 2.213 kasus HIV dan 857 kasus AIDS yang berhasil didata oleh petugas kesehatan setempat. Kota Cirebon berambisi untuk menjadi kota pionir dalam penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia. Ini dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix. Keterlibatan komunitas Warga Peduli AIDS (WPA) pun dianggap vital dalam mengedukasi masyarakat serta memberikan layanan kesehatan terkait HIV-AIDS di tingkat kelurahan. Hingga saat ini, WPA sudah terbentuk di 20 kelurahan di Kota Cirebon. Sri berharap bahwa keterlibatan semua pihak dapat membantu mempercepat pencapaian target penanggulangan HIV-AIDS di wilayahnya. ANTARA